Kisah Mbah Riyan Kudus, Ulama Lulusan LIPIA yang Jadi Buruh Bangunan dan Diakui Ulama Al-Azhar Mesir

Kudus63 Dilihat

PORTALMURIA.com, KUDUS – Di sebuah desa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, hidup seorang ulama yang kesehariannya nyaris tak berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Ia adalah Supriyanto, yang lebih dikenal sebagai Mbah Riyan.

Di balik kehidupannya yang sederhana, Mbah Riyan merupakan seorang ulama, peneliti, dan penulis produktif yang telah melahirkan lebih dari seratus karya ilmiah dalam bidang tahqiq kitab. Di dunia literasi Islam, beliau menggunakan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi.

Mbah Riyan merupakan lulusan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta pada tahun 2013. Sejak masih menjadi mahasiswa, ia dikenal memiliki ketelitian luar biasa dalam bidang tahqiq kitab, yakni penelitian, verifikasi, dan penyuntingan ilmiah terhadap manuskrip klasik Islam. Kemampuan akademiknya mendapat apresiasi tinggi dari para dosen.

Selepas menyelesaikan pendidikan, Mbah Riyan mengabdikan diri sebagai pengajar sekaligus mengelola perpustakaan pesantren di Sukabumi. Di tengah ribuan koleksi kitab, ia menghabiskan malam-malamnya untuk membaca manuskrip, meneliti, menyusun, dan mentahqiq karya-karya ulama terdahulu.

Dari ketekunan tersebut lahirlah puluhan karya ilmiah yang kemudian berkembang menjadi lebih dari seratus kitab. Sebagian di antaranya telah diterbitkan oleh penerbit di luar negeri dan beredar hingga ke sejumlah negara Timur Tengah. Fokus utama beliau adalah menghidupkan kembali warisan intelektual ulama Nusantara agar tetap lestari dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

Sekembalinya ke Kudus, Mbah Riyan memilih menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Setiap siang, ia bekerja sebagai buruh bangunan demi menafkahi keluarganya. Namun ketika malam tiba, waktunya dihabiskan untuk menelaah manuskrip klasik Islam dan menyusun karya-karya tahqiq yang menjadi kontribusinya bagi dunia keilmuan.

Kesederhanaan itu membuat banyak warga sekitar lebih mengenalnya sebagai pekerja serabutan dibandingkan sebagai seorang ulama dan penulis yang memiliki reputasi internasional.

Kemampuan Mbah Riyan dalam bidang tahqiq membuat namanya dikenal di kalangan ulama dunia. Salah satu tokoh yang memberikan pengakuan terhadap keilmuannya adalah ulama senior Al-Azhar Mesir, Syekh Abdul Aziz Syahawi.

Meski tidak pernah menempuh pendidikan formal di perguruan tinggi Timur Tengah, kemampuan bahasa Arab, penguasaan literatur klasik, serta metodologi ilmiahnya disebut memiliki kualitas yang setara, bahkan dinilai mampu bersaing dengan kalangan akademisi internasional.

Berbeda dengan kebanyakan ulama, Mbah Riyan memilih berdakwah melalui tulisan. Ia tidak memiliki majelis taklim besar maupun mengasuh pondok pesantren. Baginya, menjaga, menyunting, dan menghadirkan kembali karya-karya ulama klasik merupakan bentuk dakwah yang akan terus memberi manfaat lintas generasi.

Sikap rendah hati juga menjadi ciri khas Mbah Riyan. Beliau tidak mengejar popularitas dan lebih menginginkan agar karya-karyanya dikenal daripada nama pribadinya. Bahkan ketika memperoleh penghargaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), beliau dikabarkan memilih untuk tidak menghadiri acara tersebut.

Kisah hidup Mbah Riyan menjadi bukti bahwa kemuliaan ilmu tidak selalu berjalan seiring dengan ketenaran. Di balik profesinya sebagai buruh bangunan, tersimpan sosok intelektual muslim yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga warisan keilmuan Islam dan melestarikan khazanah intelektual ulama Nusantara bagi generasi yang akan datang.

(Red.)