NGAWI, JATIM || PortalMuria.com — Dugaan keracunan massal menimpa puluhan santri dan siswa di Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, sejak Rabu hingga Kamis (3–4/12). Total 66 korban dilarikan ke Puskesmas Mantingan dan RSUD Mantingan setelah mengalami gejala mual, pusing, dan diare usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kasus ini tidak hanya memicu kekhawatiran orang tua dan lembaga pendidikan, tetapi juga menimbulkan insiden lain: sejumlah jurnalis diintimidasi dan diusir saat mencoba meliput di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bintang Mantingan, lokasi yang diduga memproduksi makanan MBG.
Bahaudin (15), siswa kelas X SMK Muhammadiyah, merupakan salah satu korban yang mengalami gejala paling awal. Ia merasakan mual dan pusing sekitar pukul 01.00 dini hari setelah mengonsumsi menu MBG.
“Rasa telur rebusnya agak aneh, tapi tetap saya makan. Malamnya langsung pusing dan mual, pagi dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Menu MBG yang disajikan terdiri dari nasi putih, sayur buncis, telur rebus, dan pisang. Gejala serupa dialami puluhan rekannya.
Tak hanya siswa, sejumlah orang tua pun ikut terdampak. Henita Afian (30) mengaku mengalami gejala setelah memakan jatah MBG milik anaknya.
“Anaknya saya suruh bawa pulang. Ternyata banyak yang keracunan, saya ikut makan lalu mual dan pusing,” tuturnya.
Data sementara menyebut korban berasal dari delapan lembaga pendidikan:
- Ponpes Miftahul Jannah
- Ponpes Ansorusunnah
- SDN Mantingan 2
- SDN Mantingan 3
- SDN Mantingan 5
- SD Muhammadiyah
- TK Ansorusunnah
- TK Mantingan 3
Kepala Puskesmas Mantingan, Muh El Riza, membenarkan bahwa jumlah korban terus bertambah.
“Saat ini 30 santri dan siswa kami rawat di puskesmas. Ada 36 lainnya dirawat di RSUD Mantingan. Gejalanya sama: mual, pusing, dan diare,” jelasnya.
Dinas Kesehatan Ngawi sudah mengambil sampel makanan dari SPPG Bintang Mantingan. Sampel dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk uji laboratorium.
Kabid SDMKF Dinkes Ngawi, Dhina Handayani, menyatakan dugaan awal mengarah pada telur rebus.
“Sampel makanan sisa MBG sudah kami kirim ke Surabaya. Dugaan awal memang ke telur rebus, tapi hasil lab yang menentukan.”

Ketika proses investigasi tengah berjalan, muncul insiden lain yang memicu sorotan publik: aksi pengusiran dan intimidasi terhadap para jurnalis yang sedang mencoba melakukan konfirmasi ke SPPG Bintang Mantingan.
Rizal, jurnalis Metro TV, mengaku ia dan sekitar delapan wartawan lain diusir ketika tiba di pintu gerbang SPPG sekitar pukul 13.00 WIB.
“Kami baru sampai pintu gerbang sudah diusir. Bahkan teman saya dikejar sambil bawa balok paving,” ungkapnya.
Para wartawan ini sebelumnya telah melakukan liputan di Puskesmas Mantingan dan datang untuk mengonfirmasi temuan terkait makanan MBG yang diduga menyebabkan keracunan massal.
Ari Hermawan, jurnalis Suara Indonesia, juga menyampaikan pengalaman serupa.
“Saat hendak meminta klarifikasi malah diusir paksa. Ada bapak-bapak keluar dari dapur, langsung mengusir. Bahkan mengancam dengan balok paving dan kayu pagar.”
Aswi, jurnalis MNC TV, menambahkan bahwa tindakan intimidasi tersebut membuat mereka memilih mundur untuk menghindari insiden yang lebih buruk.
“Entah karyawan SPPG atau siapa, saya tidak tahu. Tapi saat kami datang, dia langsung keluar dan marah-marah.”
Hingga berita ini diturunkan, dinas kesehatan masih menunggu hasil laboratorium dari BBLKM Surabaya. Sementara itu, masyarakat dan orang tua murid menuntut penjelasan transparan terkait keamanan menu MBG serta perlakuan tidak semestinya terhadap pekerja media.
Kasus ini tidak hanya menyangkut aspek kesehatan publik, tetapi juga kebebasan pers yang semestinya dilindungi dalam proses peliputan peristiwa berkepentingan publik.
(Red.)














