Warga Tiga Desa Blokir Jalan ke Lapangan Pertamina Ledok, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak Parah

Berita, JAWA TENGAH741 Dilihat

BLORA, PortalMuria.com — Ketegangan memuncak di Kecamatan Sambong, Blora, saat ratusan warga dari tiga desa—Ledok, Sambong, dan Pojokwatu—melakukan aksi pemblokiran jalan kabupaten yang menjadi satu-satunya akses menuju Distrik 2 Ledok Pertamina EP Field Cepu Zona 11, Kamis (27/11/2025).

Pemblokiran dilakukan dengan cara tak biasa: warga memarkir deretan sepeda motor, memalang bambu, hingga menanam pohon pisang di badan jalan. Simbol bahwa akses itu “ditutup total” sampai tuntutan mereka didengar.

Aksi tersebut membuat jalur vital Sambong–Ledok lumpuh total. Aparat TNI–Polri diterjunkan untuk melakukan penjagaan berlapis agar situasi tetap terkendali.

Warga menilai kondisi jalan yang rusak parah sudah terlalu lama diabaikan. Truk-truk besar milik Pertamina yang melintas setiap hari dianggap menjadi penyebab utama kerusakan.

Lubang besar, permukaan jalan pecah, dan genangan air di berbagai titik membuat warga kesulitan melintas. Anak-anak sekolah, pedagang, hingga ambulans sering terhambat saat melewati jalur tersebut.

“Kendaraan berat Pertamina itu muatannya puluhan ton. Jalan kampung ini tidak didesain untuk itu, makanya hancur. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian perbaikan,” ucap Suprihantono, warga Ledok, dalam orasinya di lokasi.

Setelah melakukan blokir jalan, ratusan warga kemudian berjalan menuju Kantor Kecamatan Sambong untuk melakukan mediasi. Namun suasana forum berubah panas ketika warga mendapati bahwa tak satu pun perwakilan Pertamina hadir.

Padahal warga sudah menunggu sejak pagi.

“Kami minta Pertamina datang dan duduk bersama. Kami ingin ada kesepakatan hitam di atas putih. Kalau tidak hadir, bagaimana masalah ini selesai?” tegas Suprihantono.

Menurutnya, masyarakat tak lagi membutuhkan janji verbal atau pendekatan lisan. Warga hanya ingin kepastian konkret bahwa perusahaan siap memperbaiki jalan.

Warga meminta jalan dari perempatan Sambong hingga Ledok, sepanjang kurang lebih 4 kilometer, diperbaiki menyeluruh menggunakan konstruksi rigid beton/cor, bukan tambal sulam.

“Dulu Pertamina memang tambah sulam pakai pedel, tapi dua-tiga bulan sudah rusak lagi. Percuma. Sekarang warga minta konstruksi permanen yang kuat dilewati kendaraan berat,” ujar Yoyok Harianto, perwakilan warga lainnya.

Permintaan ini bukan tanpa alasan. Jalan tersebut merupakan akses utama ribuan warga dan menjadi jalur operasional industri migas. Tanpa perbaikan yang sesuai standar, kerusakan diyakini akan terus berulang.

Warga juga menuntut Dinas PUPR Kabupaten Blora hadir dalam pembahasan menyeluruh, karena jalan tersebut masuk kategori jalan kabupaten.

“Sampai ada kesepakatan tertulis antara PUPR dan Pertamina, kami melarang sementara kendaraan Pertamina lewat. Ini demi keselamatan warga, bukan untuk menghambat operasional,” kata Suprihantono.

Ia menegaskan, warga tak berniat konfrontatif. Mereka hanya ingin masalah klasik yang bertahun-tahun tak terselesaikan ini segera dituntaskan.

Saat dikonfirmasi mengenai ketidakhadiran dalam mediasi maupun tuntutan warga, Head Communication Relation & CID Zona 11 Pertamina EP, Ahmad Setiadi, belum memberikan respons hingga berita panjang ini dipublikasikan.

Di sisi lain, aparat keamanan terus berjaga mengantisipasi potensi eskalasi jika tak ada respon cepat dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah.

Massa mengancam akan melanjutkan pemblokiran hingga ada kesepakatan tertulis soal perbaikan jalan. Jika tidak, aksi ini berpotensi berkembang menjadi demonstrasi skala lebih besar.

Warga berharap pihak Pertamina segera turun tangan agar kondisi sosial di wilayah Sambong kembali kondusif.

“Kami siap duduk bersama kapan pun. Asal datang, dengarkan suara kami, dan selesaikan masalahnya. Itu saja,” pungkas Suprihantono.

(Red.)