Geger Bibit Tebu Dibuang di Hutan Sulang-Sumber Rembang, DPP Brandal Alif Desak Usut Tuntas

Berita, Rembang771 Dilihat

REMBANG, PortalMuria.com  – Penemuan tumpukan bantuan bibit tebu yang terbengkalai dan diduga dibuang di kawasan hutan perbatasan Kecamatan Sulang dan Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, memantik reaksi keras. Bantuan yang semestinya menguatkan petani, justru ditemukan tak terurus di tengah rimbunnya pepohonan.

Temuan ini cepat menyebar dan memicu kegaduhan publik. Warga mempertanyakan bagaimana mungkin bantuan pertanian yang dinanti-nanti bisa berakhir di lokasi yang jauh dari lahan garapan.

Reaksi tegas datang dari Ketua DPP Brandal Alif, Arif. Ia mengaku terkejut mendengar kabar tersebut, terlebih karena bibit tebu merupakan bagian dari program strategis pertanian nasional.

“Saya sangat kaget membaca berita itu. Kalau hal itu membuat geger, saya juga memakluminya,” ujar Arif saat dimintai keterangan, Sabtu (14/02).

Menurutnya, kegemparan masyarakat adalah sesuatu yang wajar. Bibit tebu bukan sekadar barang bantuan, melainkan aset negara yang seharusnya memberikan dampak ekonomi langsung bagi petani.

Arif menilai, jika benar bibit tersebut merupakan bantuan resmi, maka ada persoalan serius dalam rantai distribusi maupun pengawasan di lapangan. Ia menegaskan, tindakan membuang bibit bukan hanya pemborosan, tetapi juga bentuk kelalaian yang bisa mencederai semangat program pusat.

Terlebih, komoditas tebu kini menjadi salah satu fokus dalam program ketahanan pangan dan energi yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto. Pengembangan tebu diarahkan untuk mendukung swasembada gula sekaligus produksi etanol sebagai bahan bakar nabati (biofuel).

“Kalau benar ini bantuan pemerintah, maka harus ada yang bertanggung jawab. Jangan sampai niat baik program pusat rusak di tingkat bawah,” tegasnya.

Guna meredam spekulasi liar di tengah masyarakat, Arif mendesak instansi berwenang segera turun tangan. Ia meminta penelusuran menyeluruh: dari mana asal bibit tersebut, siapa penerimanya, dan mengapa bisa berakhir di kawasan hutan.

“Saya berharap pihak yang mempunyai kewenangan segera menanggapi dan menelusuri kebenaran berita tersebut. Agar spekulasi di masyarakat tidak semakin liar,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai kepemilikan maupun status bibit tersebut.

Kasus ini dikhawatirkan berdampak pada kepercayaan petani terhadap program bantuan pemerintah. Di tengah harapan peningkatan produksi dan kesejahteraan, peristiwa semacam ini justru memunculkan tanda tanya besar.

Jika tak segera diusut secara transparan dan akuntabel, bukan hanya bibit yang terbuang, akan tetapi juga harapan petani serta kredibilitas program pertanian nasional.

(Red.)