Geger! Bibit Tebu Bantuan Diduga Dibuang di Hutan Perbatasan Sulang-Sumber Rembang, Terindikasi Lahan Fiktif

Berita, Rembang1292 Dilihat

REMBANG, PortalMuria.com – Warga di wilayah Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, dibuat geger dengan temuan tumpukan bibit tebu yang diduga merupakan bantuan pemerintah. Bibit tersebut ditemukan tergeletak begitu saja di kawasan hutan perbatasan antara Kecamatan Sumber dan Kecamatan Sulang, dalam kondisi mulai rusak dan membusuk.

Temuan ini memantik pertanyaan serius: apakah bantuan pertanian benar-benar sampai dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya?

Penemuan tersebut diungkapkan Eko Yulianto, warga Desa Ronggomulyo, Kecamatan Sumber. Ia mengaku mendapat informasi dari warga soal adanya bibit bantuan yang tidak ditanam dan dikumpulkan di satu titik di tengah hutan.

“Saya mendapat informasi ada bibit bantuan yang busuk dan dikumpulkan di satu tempat. Setelah itu saya bersama warga langsung mengecek ke lokasi,” ujar Eko, Jumat (13/2/2026).

Untuk mencapai lokasi, warga harus berjalan kaki karena akses kendaraan tidak memungkinkan. Di lokasi, mereka mendapati sekitar tiga tumpukan atau barisan bibit tebu dalam jumlah cukup banyak, tanpa tanda-tanda pernah ditanam.

Yang membuat temuan ini semakin mencurigakan, pada sejumlah bibit masih menempel kertas sertifikasi dari pihak penyedia. Indikasi tersebut memperkuat dugaan bahwa bibit itu merupakan bagian dari program bantuan resmi.

“Ada tiga tumpukan. Jumlahnya tidak sedikit. Kalau cuma satu dua mungkin bisa dianggap kendala teknis, tapi ini terlihat seperti memang tidak ditanam sama sekali,” jelas Eko.

Kondisi bibit yang mulai rusak menimbulkan dugaan bahwa bibit tersebut sudah cukup lama dibiarkan tanpa perawatan.

Yang membuat temuan ini semakin mencurigakan, pada sejumlah bibit masih menempel kertas sertifikasi dari pihak penyedia.

Penemuan ini memunculkan spekulasi adanya lahan fiktif dalam pengajuan bantuan pertanian. Dugaan mengarah pada kemungkinan kelompok tani tertentu mengajukan bantuan bibit untuk lahan yang secara faktual tidak tersedia atau tidak siap tanam.

Jika dugaan tersebut benar, maka potensi kerugian negara bukan hanya pada nilai bibit yang terbuang, tetapi juga pada rusaknya kepercayaan publik terhadap program bantuan pertanian.

Namun demikian, Eko menegaskan pihaknya tidak ingin berspekulasi lebih jauh sebelum ada klarifikasi resmi.

“Kami akan koordinasi dan konfirmasi dulu dengan dinas untuk memastikan kelompok tani mana yang menerima dan apa alasan bibit itu tidak ditanam. Ini menyangkut bantuan pemerintah, jadi harus jelas,” tegasnya.

Dinas Diminta Turun Tangan, Transparansi Jadi Kunci
Warga berharap dinas terkait segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan investigasi menyeluruh. Mereka menilai, jika tidak segera ditangani, kasus seperti ini berpotensi terulang dan mencederai tujuan program ketahanan pangan.

Bantuan pertanian sejatinya menjadi tumpuan banyak petani dalam meningkatkan produktivitas. Namun jika dalam praktiknya terjadi penyimpangan, maka yang dirugikan bukan hanya negara, melainkan juga petani kecil yang benar-benar membutuhkan.

Kasus ini kini menjadi sorotan warga Rembang. Publik menunggu langkah tegas dan transparan dari instansi berwenang untuk memastikan apakah ini murni kelalaian teknis atau ada indikasi penyalahgunaan bantuan.

(Red.)