Ribuan Warga Dukuh Penggung Gelar Puncak Selametan Sedekah Bumi di Makam Mbah Surgi, Pati

Pati10 Dilihat

Portal Muria – 18 April 2026 | Sabtu malam, 18 April 2026, menjadi saksi kebersamaan lebih dari tiga ribu warga Dukuh Penggung, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, yang berbondong‑bondong mengisi area makam Mbah Surgi Suro Wencono untuk menyaksikan puncak acara Selametan Sedekah Bumi. Kegiatan keagamaan dan kebudayaan ini berlangsung secara khidmat setelah salat magrib, menandai perpaduan tradisi lokal dengan rasa syukur kolektif.

Pengurus makam, Noor Iksan, yang sekaligus memimpin doa bersama, menyatakan rasa syukurnya atas kelancaran rangkaian acara. “Atas nama pengurus makam Mbah Surgi Suro Wencono, kami sangat bersyukur. Kurang lebih ada 3.200 warga Dukuh Penggung yang hadir dalam puncak selametan ini,” ujarnya dengan nada penuh kebanggaan. Ia menegaskan bahwa tradisi Sedekah Bumi di Desa Ngagel selalu bertepatan dengan Haul pendiri atau cikal bakal Dukuh Penggung, sehingga menambah nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat.

Setelah salat magrib, warga secara serentak membawa nasi berkat, simbol keberkahan, serta uang sedekah yang telah dikumpulkan oleh panitia. Praktik berbagi ini menegaskan nilai gotong‑royong yang menjadi jantung budaya setempat. Kepala Desa Ngagel, Suwardi, menambahkan bahwa momen tersebut menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan, tanah subur, serta kedamaian yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. “Semoga kita selalu diberikan kesehatan, masyarakatnya diberikan ketenangan, tidak ada musibah dan masalah,” harapnya.

  • Jumlah peserta: sekitar 3.200 orang
  • Lokasi: Makam Mbah Surgi Suro Wencono, Dukuhseti, Pati
  • Waktu: Sabtu, 18 April 2026, setelah salat magrib
  • Acara utama: Selametan Sedekah Bumi, doa bersama, pelepasan merpati

Acara berlanjut dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kiai Noor Iksan. Doa tersebut diiringi selawat, menambah kehangatan spiritual di antara para peserta. Sebagai simbol perdamaian, pengurus makam melepaskan sepasang merpati putih yang terbang melintasi langit malam. Merpati putih dipilih karena melambangkan cinta abadi, kesetiaan, kebebasan, serta harapan akan masa depan yang lebih damai.

Setelah doa selesai, warga saling menukar nasi berkat, sebuah tradisi yang menguatkan ikatan antar tetangga. Beberapa keluarga kemudian melanjutkan makan bersama di sekitar area makam, memperpanjang kebersamaan hingga larut malam. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tanpa hambatan berarti, mencerminkan koordinasi yang baik antara panitia, pengurus makam, dan aparat keamanan setempat.

Tak lama setelah selametan, Kepala Desa Suwardi menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini tetap sederhana namun sarat makna. Ia mengingatkan bahwa perayaan karnaval yang dijadwalkan pada Minggu, 19 April 2026, harus tetap mengedepankan unsur tradisional dan tidak melenceng dari nilai-nilai kebudayaan lokal. “Mari kita rayakan dengan kesederhanaan, menonjolkan kebudayaan kita, sehingga generasi muda dapat mewarisi semangat persatuan ini,” ujarnya.

Secara keseluruhan, puncak Selametan Sedekah Bumi ini berhasil menumbuhkan rasa kebersamaan, meningkatkan solidaritas sosial, serta meneguhkan identitas budaya Desa Ngagel. Kegiatan semacam ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi lokal dapat berperan sebagai penopang moral dan sosial dalam menghadapi tantangan modernitas.

Kesimpulannya, kehadiran ribuan warga Dukuh Penggung dalam Selametan Sedekah Bumi menunjukkan betapa kuatnya ikatan kebudayaan dan keagamaan di wilayah Pati. Dengan dukungan pengurus makam, tokoh agama, dan pemerintah desa, acara ini tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga platform bagi masyarakat untuk meneguhkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan harapan akan masa depan yang lebih damai.