Blokade AS di Hormuz Membuat Kapal Tanker Terkepung, Kapal China Jadi Pionir Lolos!

Nasional33 Dilihat

Portal Muria – 19 April 2026 | Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah Amerika Serikat memperpanjang blokade lautnya terhadap pelabuhan Iran. Blokade tersebut menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi jalur strategis ini, memicu penutupan kembali selat oleh Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Dalam aksi terbaru, delapan kapal tanker berhasil menembus blokade pada saat kondisi masih tidak menentu, namun satu kapal tanker berlayar dari Cina menjadi yang pertama berhasil melewati selat tanpa mengalami penolakan atau tembakan.

Penutupan Selat Hormuz yang diumumkan pada Sabtu (18/4/2026) oleh IRGC menegaskan bahwa tidak ada kapal jenis apa pun yang diizinkan melintas kecuali blokade AS dicabut. Pernyataan tersebut menegaskan kembali kontrol ketat Iran atas jalur pelayaran penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Iran menilai blokade AS melanggar perjanjian gencatan senjata yang sedang berlangsung antara Tehran dan Washington, serta mengancam kepentingan nasionalnya.

Sementara itu, laporan otoritas maritim Inggris mengindikasikan bahwa kapal-kapal dagang, termasuk tanker bermuatan minyak, menerima perintah radio dari militer Iran untuk menghentikan pelayaran. Dua kapal berbendera India, salah satunya Sanmar Herald, dilaporkan diserang oleh pasukan IRGC pada upaya melintasi selat. Pemerintah India segera memanggil duta besar Iran di New Delhi untuk menyampaikan keprihatinan mendalam dan menuntut fasilitasi kembali pelayaran kapal-kapalnya.

Di tengah situasi tersebut, sebuah kapal tanker milik perusahaan asal Tiongkok berhasil menembus selat tanpa hambatan. Keberhasilan ini menjadi sorotan utama media internasional karena menandakan adanya kemungkinan jalur khusus yang diberikan oleh Iran kepada kapal yang dianggap tidak menentang kepentingan mereka. Menurut sumber maritim, kapal China tersebut mengikuti rute yang telah disetujui sebelumnya dan dipandu oleh unit IRGC Navy, sehingga menghindari konfrontasi.

Delapan kapal tanker yang sempat lolos pada periode ketidakpastian tersebut meliputi beberapa kapal milik perusahaan energi dari Uni Emirat Arab, Korea Selatan, dan Jepang. Mereka berhasil melewati selat dalam rentang waktu kurang dari 24 jam sebelum Iran menegaskan kembali penutupan total. Daftar singkat kapal yang berhasil melintas antara lain:

  • Tanker MV Al-Masirah (UAE)
  • Tanker Sinokor (Korea Selatan)
  • Tanker Pacific Dawn (Jepang)
  • Tanker Horizon Star (Arab Saudi)
  • Tanker Gulf Breeze (Kuwait)
  • Tanker Oceanic Pearl (Singapura)
  • Tanker Eastern Light (Malaysia)
  • Tanker Sunrise Glory (Thailand)

Keberhasilan mereka menembus selat sebagian besar dikaitkan dengan izin khusus yang diberikan oleh otoritas Iran pada akhir Maret 2026, yang kemudian dicabut setelah insiden penembakan terhadap kapal India. Sementara kapal China berhasil melewati selat pada hari berikutnya, menandakan bahwa Iran mungkin masih memberi kelonggaran pada kapal yang tidak menimbulkan ancaman geopolitik.

Blokade AS sendiri merupakan bagian dari strategi tekanan ekonomi terhadap Iran, menargetkan pengiriman minyak dan produk energi lainnya. Namun, langkah ini menimbulkan kekhawatiran global mengenai keamanan pasokan minyak dunia, mengingat Selat Hormuz menyumbang sekitar tiga persen konsumsi minyak global setiap harinya. Kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional mulai terlihat sejak penutupan selat, dengan fluktuasi harga mencapai 5-7 persen dalam beberapa hari pertama.

Para analis geopolitik menilai bahwa kebijakan penutupan selat oleh Iran bersifat taktik untuk menegosiasikan kembali posisi tawar dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat. Seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Tehran mengemukakan bahwa Iran menggunakan kontrol atas selat sebagai leverage untuk menuntut pencabutan blokade serta mengakhiri sanksi ekonomi yang dianggap merugikan. Sementara itu, pejabat militer AS menegaskan komitmen Washington untuk melindungi kepentingan maritim sekutunya di kawasan, termasuk kebebasan navigasi bagi kapal-kapal komersial.

Di tengah dinamika ini, dunia menantikan langkah selanjutnya dari kedua belah pihak. Jika Iran tetap menutup Selat Hormuz hingga blokade AS dicabut, risiko gangguan pasokan energi global dapat meningkat, memicu ketidakstabilan ekonomi di pasar internasional. Sebaliknya, jika Amerika Serikat melonggarkan blokade atau mencari solusi diplomatik, jalur pelayaran strategis ini dapat kembali beroperasi secara normal, mengurangi tekanan pada harga minyak.

Dengan situasi yang masih berkembang, kapal tanker dari berbagai negara terus memantau instruksi terbaru dari otoritas maritim Iran dan pernyataan resmi Washington. Keberhasilan kapal tanker China menembus selat menjadi indikator bahwa jalur khusus masih dapat dibuka secara terbatas, namun keberlanjutan akses tersebut sangat bergantung pada perkembangan negosiasi antara kedua kekuatan besar.

Kesimpulannya, blokade AS di Selat Hormuz menimbulkan konsekuensi signifikan bagi perdagangan global, sementara Iran menegaskan haknya untuk mengendalikan jalur penting ini hingga tuntutan politiknya terpenuhi. Kejadian delapan kapal tanker yang sempat lolos, termasuk kapal China pertama yang berhasil melintas, menunjukkan kompleksitas situasi dan potensi ruang gerak diplomatik yang masih terbuka.