Portal Muria – 22 April 2026 | London menjadi panggung utama bagi perencanaan militer internasional setelah lebih dari tiga puluh negara berkumpul pada Rabu, 22 April 2026, untuk membahas langkah-langkah pengamanan Selat Hormuz. Pertemuan dua hari ini, yang diprakarsai oleh Inggris dan Prancis, bertujuan menyusun rencana operasional yang dapat mengembalikan kebebasan navigasi di jalur laut yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan energi dunia.
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menegaskan pentingnya mengubah konsensus diplomatik menjadi aksi konkret di lapangan. “Tugas hari ini dan besok adalah menerjemahkan kesepakatan diplomatik menjadi rencana bersama untuk menjaga kebebasan navigasi di selat dan mendukung gencatan senjata yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pembukaan konferensi. Healey menambahkan bahwa optimisme tinggi muncul setelah pertemuan sebelumnya di Paris pada 17 April, yang dihadiri oleh Perdana Menteri Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama perwakilan lebih dari 40 negara.
Rencana yang dibahas mencakup mekanisme komando dan kontrol, kemampuan militer yang akan dikerahkan, serta skema penempatan pasukan bila kondisi keamanan memungkinkan. Meskipun rencana bersifat defensif, para peserta menekankan bahwa pasukan hanya akan dikerahkan setelah tercapai gencatan senjata yang stabil dan berkelanjutan di kawasan. Amerika Serikat dan Iran, dua pihak utama yang terlibat dalam konflik, tidak hadir dalam pertemuan tersebut, meski gencatan senjata dua minggu antara mereka secara resmi berakhir pada pukul 00.00 GMT 22 April. Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata sesaat sebelum tenggat waktu untuk memberi ruang lebih pada proses negosiasi, namun tetap mempertahankan blokade pelabuhan Iran.
Ketegangan di Selat Hormuz memiliki implikasi ekonomi global yang signifikan. Selat ini menyumbang sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, menjadikannya jalur kritis bagi pemasok energi Timur Tengah. Penutupan akses selat oleh Iran pada akhir Februari 2026 memicu lonjakan harga minyak, tekanan pada pasar energi, dan menggerakkan pencarian alternatif, seperti jalur Laut Mesir-Italia yang diklaim lebih efisien serta potensi peningkatan peran Selat Malaka.
Dalam konteks alternatif, pejabat Iran, Ayatollah Ali Akbar Velayati, baru-baru ini memperingatkan bahwa Selat Malaka dapat mengalami nasib serupa dengan Hormuz jika ketegangan berlanjut. Pernyataan tersebut muncul setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz pada 18 April 2026. Velayati menekankan pentingnya keamanan bersama di wilayah strategis seperti Malaka, Bab el-Mandeb, dan Hormuz, mengingat keterkaitan jaringan pelayaran global.
Data energi internasional menunjukkan bahwa meski Selat Hormuz tetap vital, jalur lain seperti Selat Malaka kini menjadi jalur distribusi minyak terbesar dengan sekitar 23,4 juta barel per hari, mengalahkan Hormuz. Hal ini menambah tekanan pada diplomasi untuk menjaga kelancaran semua jalur laut utama, mengingat gangguan di satu titik dapat memicu efek berantai pada rantai pasok energi global.
Para delegasi di London berharap pertemuan ini menjadi titik balik yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara terkoordinasi, sekaligus memperkuat kerjasama multinasional dalam menjaga keamanan maritim. Dengan dukungan logistik dan intelijen bersama, diharapkan rencana defensif dapat bertransformasi menjadi operasi yang menegakkan kebebasan navigasi tanpa menambah eskalasi militer.
Kesimpulannya, pertemuan di London menandai langkah signifikan dalam upaya internasional mengatasi krisis di Selat Hormuz. Keberhasilan rencana ini akan sangat bergantung pada stabilitas gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta komitmen bersama negara‑negara peserta untuk menegakkan keamanan maritim yang berkelanjutan. Jika tercapai, jalur energi vital ini dapat kembali berfungsi sebagai penghubung utama perdagangan global, mengurangi tekanan pada alternatif lain dan menstabilkan pasar minyak dunia.








