Portal Muria – 21 April 2026 | Jakarta – Pemerintah Indonesia mencatat pencapaian signifikan dalam sektor agrikultur dengan berhasil mengekspor 459 ton durian ke Tiongkok senilai Rp42,5 miliar pada kuartal pertama 2024. Data resmi yang dirilis Kementerian Perdagangan menyebutkan bahwa durian asal Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menjadi komoditas unggulan yang berhasil menembus pasar global, khususnya pasar China yang terus meningkatkan permintaan terhadap buah tropis premium.
Ekspor durian ini tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga menandai transformasi strategis dalam rantai nilai pertanian Indonesia. Selama lima tahun terakhir, pemerintah bersama asosiasi petani durian telah mengintensifkan program sertifikasi internasional, peningkatan kualitas buah, serta pembangunan infrastruktur logistik yang memungkinkan pengiriman dalam kondisi segar dan aman. Upaya tersebut terbukti efektif, mengingat durian Parigi Moutong kini dikenal dengan kualitas rasa manis‑asaman yang khas serta tekstur daging yang lembut.
Berikut rincian data ekspor durian pada periode tersebut:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Volume Ekspor | 459 ton |
| Nilai Ekspor | Rp42,5 miliar |
| Negara Tujuan Utama | Republik Rakyat Tiongkok |
| Persentase Total Ekspor Buah Tropis | 12,3 % |
Para pelaku industri menilai bahwa keberhasilan ini didorong oleh dua faktor utama. Pertama, peningkatan standar kualitas melalui penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dan sertifikasi GlobalGAP, yang meningkatkan kepercayaan pembeli internasional. Kedua, adanya kemitraan strategis antara eksportir Indonesia dengan distributor di China, termasuk perjanjian pasokan jangka panjang yang menjamin kestabilan volume dan harga.
Menjawab pertanyaan tentang dampak ekonomi bagi daerah asal, Bupati Parigi Moutong, Dr. H. Syarifuddin, menyampaikan bahwa ekspor durian memberikan peluang kerja baru bagi ribuan warga, mulai dari petani, pekerja pengemasan, hingga sopir truk pengangkut. “Pendapatan petani meningkat rata‑rata 30 % dibandingkan periode sebelumnya. Ini membuka peluang investasi di sektor agribisnis, termasuk pembangunan pabrik pengolahan durian menjadi produk bernilai tambah seperti selai dan es krim,” ungkapnya dalam konferensi pers di kantor Bupati.
Sementara itu, analis pasar internasional menilai bahwa permintaan China terhadap durian dipicu oleh tren konsumen muda yang semakin menyukai makanan eksotis dan premium. Data dari lembaga riset pasar Asia menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 18 % dalam konsumsi durian di kota‑kota besar seperti Shanghai, Guangzhou, dan Chengdu. Hal ini mendorong produsen Indonesia untuk menyesuaikan kalender panen agar sinkron dengan musim permintaan di China.
Namun, tidak semua pihak menilai situasi ini sebagai hal yang sepenuhnya positif. Beberapa pakar agronomi memperingatkan risiko ketergantungan pada satu pasar ekspor. “Jika terjadi perubahan kebijakan impor di China, misalnya kenaikan tarif atau pembatasan kuota, petani Indonesia dapat mengalami penurunan pendapatan yang signifikan,” kata Dr. Maya Lestari, peneliti dari Lembaga Penelitian Pertanian Nasional. Ia menekankan pentingnya diversifikasi pasar, termasuk menargetkan negara‑negara lain di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Kementerian Perdagangan mengumumkan rencana program promosi durian di pameran internasional yang akan diselenggarakan pada akhir tahun ini di Dubai dan Hong Kong. Program ini mencakup dukungan logistik, subsidi pemasaran, serta pelatihan bagi eksportir kecil menengah dalam proses sertifikasi dan standar kualitas internasional.
Secara keseluruhan, pencapaian 459 ton durian dengan nilai Rp42,5 miliar menandakan bahwa Indonesia semakin kuat dalam kompetisi ekspor buah tropis. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan devisa, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasokan domestik, dan memperluas citra produk pertanian Indonesia di panggung global. Kedepannya, strategi diversifikasi pasar dan peningkatan nilai tambah produk diharapkan dapat menjadikan durian Indonesia tidak hanya sekadar komoditas ekspor, melainkan simbol kualitas dan inovasi agribisnis nasional.








