AS Resmi Cabut Semua Pasukan dari Suriah: Akhir Dekade Kehadiran Militer di Tanah Timur Tengah

Politics81 Dilihat

Portal Muria – 17 April 2026 | Presiden Amerika Serikat mengumumkan secara resmi bahwa semua pasukan yang beroperasi di Suriah akan ditarik dalam beberapa minggu ke depan, menandai akhir dari kehadiran militer Amerika selama lebih dari satu dekade di wilayah tersebut.

Keputusan ini diambil setelah serangkaian evaluasi strategis yang menyoroti perubahan lanskap keamanan di Suriah sejak puncak ancaman kelompok ISIS pada tahun 2014. Pada masa itu, ribuan tentara Amerika dikerahkan untuk mendukung pasukan Kurdi YPG dalam memerangi terorisme, sekaligus menahan perluasan pengaruh Iran dan Rusia di wilayah itu.

Seiring berjalannya waktu, kemajuan signifikan dalam pemberantasan ISIS, serta dinamika politik internal Suriah yang semakin stabil di bawah pemerintahan Presiden Bashar al‑Assad, menjadi faktor utama yang mendorong Washington untuk mengakhiri misi militernya. Dalam pernyataannya, Presiden menegaskan bahwa tujuan utama kehadiran pasukan AS, yakni menghancurkan jaringan teror, telah tercapai.

Penarikan pasukan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan penarikan unit‑unit logistik dan dukungan intelijen, diikuti oleh unit tempur utama. Semua proses akan dikoordinasikan dengan sekutu regional, termasuk Turki dan Israel, untuk memastikan tidak terjadi kekosongan keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok bersenjata lain.

Pengembalian kendali penuh atas wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan Amerika kini diserahkan kembali kepada pemerintah Suriah. Pemerintah Damaskus menyambut baik keputusan ini sebagai kemenangan diplomatik yang mengukuhkan kedaulatan negara. Menteri Pertahanan Suriah menyatakan kesiapan pasukannya untuk mengamankan seluruh wilayah, termasuk daerah-daerah yang sebelumnya menjadi zona operasi militer asing.

Sementara itu, reaksi internasional beragam. Moskow memuji langkah Washington sebagai langkah positif menuju de‑eskalasi ketegangan di kawasan, sementara Teheran menilai penarikan tersebut sebagai kesempatan untuk memperkuat pengaruhnya di Suriah. Turki, yang selama ini memiliki kepentingan keamanan di perbatasan selatan, menekankan pentingnya koordinasi dalam menangani ancaman terorisme lintas batas.

Kelompok Kurdi YPG, yang selama ini menjadi mitra utama Amerika dalam memerangi ISIS, menyatakan keprihatinan atas penarikan pasukan AS. Pimpinan mereka mengingatkan bahwa tanpa dukungan logistik dan intelijen Amerika, mereka menghadapi risiko meningkatnya serangan dari milisi yang didukung Iran serta potensi konfrontasi dengan pasukan Turki.

Para analis keamanan menilai bahwa penarikan ini dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Suriah. Mereka memperkirakan bahwa pemerintah Assad akan berupaya memperluas kontrolnya ke daerah-daerah yang sebelumnya menjadi zona zona demiliterisasi, sementara Rusia kemungkinan akan meningkatkan kehadiran militernya untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Amerika.

Di dalam negeri Amerika, keputusan ini mendapat dukungan dari sebagian besar anggota Kongres yang menilai bahwa keterlibatan militer di luar negeri harus dibatasi. Namun, kritik tetap muncul dari kalangan yang menilai penarikan cepat dapat mengancam kestabilan regional dan menimbulkan kekosongan yang dapat dimanfaatkan oleh aktor-aktor ekstremis.

Secara keseluruhan, penarikan semua pasukan AS dari Suriah menandai perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah. Dengan berakhirnya operasi militer yang telah berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun, kontrol penuh atas wilayah tersebut kembali ke tangan pemerintah Suriah, membuka babak baru dalam dinamika politik, keamanan, dan hubungan internasional di kawasan yang selama ini menjadi pusat perhatian dunia.