REMBANG, PortalMuria.com – Hamparan jagung menguning seluas 17 hektar di Desa Jukung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, sejatinya menjadi penanda musim panen raya yang ditunggu-tunggu. Namun tahun ini, suasana sukacita berubah menjadi mendung panjang di wajah para petani.
Alih-alih meraup keuntungan, mereka justru dipaksa menghadapi kenyataan pahit: harga jual jagung di tingkat petani anjlok drastis dalam hitungan hari.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga jagung yang sebelumnya stabil di angka Rp4.400 per kilogram kini merosot tajam menjadi Rp3.500 per kilogram. Penurunan Rp900 per kilogram itu terjadi bersamaan dengan panen serentak di sejumlah wilayah.
Secara teori, hukum pasar kembali menunjukkan wajah kerasnya. Stok melimpah, namun serapan pasar tak mampu mengimbangi.
“Kami sangat mengeluhkan kondisi ini. Pasca-panen raya, harga malah turun drastis. Yang semula Rp4.400, sekarang tinggal Rp3.500 per kilogram,” ungkap Dwi
Harsono, salah satu tokoh tani setempat.
Bagi petani, selisih Rp900 bukan angka kecil. Dalam skala hektaran, penurunan itu bisa memangkas pendapatan hingga jutaan rupiah.
Belum selesai dengan tekanan harga, petani jagung di Kecamatan Bulu juga harus berjibaku dengan persoalan kadar air. Hujan yang turun berhari-hari membuat jagung sulit mencapai standar kekeringan yang disyaratkan pembeli.
Akibatnya, para tengkulak menjadi semakin selektif. Jagung dengan kadar air tinggi ditolak mentah-mentah.

“Kalau yang punya modal, jagungnya di-oven. Pembeli saat ini sama sekali tidak mau menerima jagung basah,” tambah Dwi.
Penggunaan mesin pengering (oven) tentu membutuhkan biaya tambahan. Petani bermodal tipis semakin terjepit, sementara yang memiliki dana cadangan pun harus rela menggerus keuntungan demi menjaga hasil panen tetap terserap pasar.
Meski harga jatuh, petani tidak punya banyak pilihan. Membiarkan jagung tetap di batang justru berisiko rusak akibat cuaca dan hama, yang bisa memperparah kerugian.
Situasi ini memaksa mereka untuk tetap memanen, meski harus “menelan pil pahit” dari hasil yang jauh dari harapan.
Panen raya yang semestinya menjadi momentum memperkuat ekonomi keluarga, kini berubah menjadi fase bertahan hidup.
Di tengah kondisi tersebut, para petani Desa Jukung berharap ada langkah konkret dari pemerintah atau pihak terkait untuk menstabilkan harga dan memperkuat serapan pasar.
“Harapan kami tentu ada perbaikan harga ke depannya agar selisih modal tanam dan hasil panen masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” pungkas Dwi.
Kondisi di Rembang ini kembali menegaskan persoalan klasik sektor pertanian: ketika produktivitas mencapai puncaknya, justru ketahanan harga menjadi titik lemah yang memukul para pahlawan pangan.
Panen raya seharusnya menjadi simbol keberhasilan. Namun tanpa perlindungan harga dan sistem distribusi yang berpihak pada petani, musim panen kerap berubah menjadi musim kegelisahan.
(Ank/R07.)














