GROBOGAN, PortalMuria.com – Padamnya Api Abadi Mrapen tak sekadar mengundang tanya, tetapi juga mengetuk kesadaran banyak pihak. Api yang selama ini dikenal sebagai fenomena alam langka sekaligus simbol sakral berbagai peristiwa nasional itu kini meredup sejak awal tahun 2026.
Api Abadi Mrapen bukan sekadar objek wisata. Dari pengambilan api obor Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga prosesi suci Tri Hari Suci Waisak, nyala abadi ini telah menjadi bagian penting sejarah dan spiritualitas bangsa.
Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi, mengungkapkan tanda-tanda padamnya api sudah terlihat sejak akhir 2025. Puncaknya terjadi tepat di hari pertama tahun baru.
“Sejak 28 Desember 2025 kami sudah melaporkan apinya mengecil. Tanggal 1 Januari pagi sekitar jam 07.00 WIB, saya cek ke sini, kondisinya sudah padam. Padahal malam sebelumnya jam 23.00 masih hidup,” ungkap Annas saat ditemui di lokasi.
Kondisi ini membuat pengelola cukup terpukul, mengingat Api Abadi Mrapen selama ini nyaris tak pernah mati dalam catatan panjang sejarahnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah langsung bergerak. Tim teknis diterjunkan untuk mengungkap penyebab padamnya api yang bersumber dari gas alam itu.
Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono, menyebut hasil peninjauan awal menunjukkan adanya penyumbatan di sumur gas.
“Gasnya tertutup media lumpur, sehingga aliran gas terhambat,” jelas Dwi usai peninjauan di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong.
Meski terlihat padam, Dwi menegaskan Api Abadi Mrapen sejatinya tidak benar-benar mati. Tekanan gas hanya melemah, sementara cadangan gas di bawah tanah masih mencukupi.
“Bukan padam sepenuhnya. Gasnya masih ada, hanya kecil. Dari kajian tenaga ahli, gasnya masih cukup melimpah,” tegasnya.
ESDM Jateng pun menyiapkan langkah teknis berupa flushing atau pembersihan sumur gas untuk mengangkat lumpur penyumbat agar aliran gas kembali normal.
“Mudah-mudahan dalam waktu seminggu ini bisa kembali seperti sedia kala,” harap Dwi.
Dampak langsung padamnya api juga dirasakan di sektor wisata. Pengelola memutuskan menggratiskan retribusi masuk sejak 1 Januari 2026.
“Kita enggak narik retribusi dulu, biasanya Rp 2.500 per orang. Karena apinya padam,” kata Annas.
Meski demikian, kawasan wisata Api Abadi Mrapen tetap dibuka dan melayani pengunjung. Pasalnya, kompleks wisata ini masih menyimpan daya tarik sejarah lain.
Annas menyebut wisatawan masih berdatangan untuk berziarah dan melihat situs bersejarah di sekitar lokasi.
“Di sini ada Batu Bobot dan Sendang Dudo, itu peninggalan Sunan Kalijaga. Banyak pengunjung tetap datang untuk ziarah. Jadi pelayanan tetap berjalan seperti biasa,” terangnya.
Padamnya Api Abadi Mrapen menjadi pengingat bahwa warisan alam dan sejarah membutuhkan perhatian serius. Publik kini menanti satu hal yang sama: kembalinya nyala api yang selama ini menjadi simbol keabadian, persatuan, dan spiritualitas bangsa.
(Red.)









