PURWODADI – PortalMuria.com | Senyum para tukang becak di Kabupaten Grobogan tampak merekah saat mereka pertama kali menjajal becak listrik bantuan Presiden RI Prabowo Subianto. Setelah puluhan tahun mengandalkan tenaga kaki, kini kayuhan berat berganti dengan putaran gas yang jauh lebih ringan.
Sebanyak 100 pengemudi becak, mayoritas sudah lanjut usia, merasakan langsung manfaat kendaraan ramah tenaga tersebut dalam kegiatan sosialisasi dan uji coba di halaman parkir Mal Pelayanan Publik (MPP) Purwodadi, Selasa (23/12/2025).
Suasana MPP Purwodadi pagi itu tampak berbeda. Para tukang becak yang biasanya setia mangkal di pasar dan terminal, kini berkumpul mencoba kendaraan baru mereka. Satu per satu mereka mempraktikkan cara menyalakan mesin, mengerem, hingga mengendarai becak listrik di lintasan uji coba.
Antusiasme terlihat jelas, bahkan dari wajah-wajah yang sudah dipenuhi keriput usia.
“Alhamdulillah, senang sekali. Tidak perlu capek mengayuh lagi,” ujar seorang tukang becak yang sehari-hari mangkal di Pasar Sulursari.
Ia mengaku, bantuan tersebut terasa sangat berarti. Di usia yang tak lagi muda, tenaga fisik kian terbatas, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan tanpa kompromi.
Secara teknis, becak listrik ini cukup dioperasikan dengan memutar gas layaknya sepeda motor. Tenaganya dinilai mumpuni, bahkan saat membawa dua penumpang atau barang belanjaan dalam jumlah cukup banyak.
Bagi para tukang becak, hal ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal rasa percaya diri untuk kembali mencari penumpang tanpa bayang-bayang kelelahan berlebihan.
“Lebih berani narik lagi, tidak takut ngos-ngosan,” ungkap salah satu peserta uji coba.
Wakil Bupati Grobogan Sugeng Prasetyo menegaskan bahwa bantuan becak listrik tersebut murni berasal dari Presiden Prabowo Subianto secara pribadi, tanpa menggunakan anggaran negara.
“Pak Presiden ingin membantu langsung tukang becak, khususnya yang sudah lansia. Karena itu penerima dipilih secara ketat agar tepat sasaran,” jelas Sugeng.
Sugeng merinci, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi penerima bantuan. Di antaranya berusia minimal 55 tahun, masih aktif sebagai tukang becak, serta memiliki KTP Kabupaten Grobogan.
Selain itu, becak listrik yang diterima tidak boleh dijual atau dipindahtangankan, demi memastikan bantuan benar-benar dimanfaatkan sesuai tujuan awal.
“Ini bukan untuk bisnis jual beli, tapi untuk meringankan beban kerja,” tegasnya.
Kabupaten Grobogan disebut sebagai salah satu daerah prioritas dalam program sosial tersebut. Pemerintah Kabupaten Grobogan pun menyampaikan apresiasi atas perhatian Presiden terhadap pekerja sektor informal yang selama ini luput dari sorotan.
“Bantuan ini membawa kebahagiaan dan harapan baru bagi abang becak di Grobogan,” pungkas Sugeng.
Di tengah kerasnya roda ekonomi, becak listrik ini bukan sekadar alat transportasi. Ia menjadi simbol bahwa jerih payah puluhan tahun para tukang becak akhirnya mendapat perhatian, dan bahwa usia senja tak seharusnya identik dengan beban kerja yang kian berat.
(Red.)








