Krisis Energi Global Mendorong Koordinasi Pemerintah dan Regional: Langkah Indonesia, Malaysia, dan Respon Rakyat

Nasional17 Dilihat

Portal Muria – 20 April 2026 | Penurunan pasokan energi akibat ketegangan di Timur Tengah, khususnya pembatasan Selat Hormuz oleh Iran, memicu gelombang krisis energi yang dirasakan secara global. Di tengah tekanan ini, pemerintah Indonesia, Malaysia, dan negara‑negara lain meluncurkan serangkaian kebijakan untuk menstabilkan pasokan bahan bakar, melindungi sektor pertanian, serta mengurangi beban konsumen.

Di Surabaya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan lebih dari satu juta ton bahan bakar minyak (BBM) khusus untuk irigasi lahan pertanian selama musim kemarau panjang yang dipicu fenomena Godzilla El Nino. Stok beras nasional yang kini mencapai 4,9 juta ton diproyeksikan akan menembus rekor tertinggi dengan perkiraan 5 juta ton. “BBM akan dijatah untuk petani, agar lahan tetap terairasi dan produksi tidak turun,” ujar Amran saat mengunjungi kantor cabang Bulog Surabaya pada 19 April 2026.

Koordinasi lintas kementerian menjadi kunci. Amran bekerja sama erat dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Energi Nasional. Kolaborasi tersebut mencakup alokasi BBM, penambahan volume pupuk, serta penyesuaian harga pupuk yang turun hingga 20 % sejak 2025. “Kebijakan ini dirumuskan bersama, untuk memastikan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan,” tambah Amran, menambahkan bahwa Kementerian Keuangan di bawah Purbaya Yudhi Sadewa turut berperan dalam pendanaan program.

Sementara itu, di Kuala Lumpur, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan langkah strategis Petronas untuk bernegosiasi dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak mentah. Negosiasi ini muncul setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memperparah ketegangan di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menyalurkan sekitar satu per lima pengiriman minyak dunia. Anwar menekankan bahwa hubungan baik Malaysia dengan Rusia memungkinkan Petronas menjadi salah satu kapal tanker pertama yang berhasil melintasi Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir, menjaga kestabilan pasokan energi domestik hingga akhir Juni.

Langkah serupa juga diambil oleh Filipina. Menteri Energi Sharon Garin meminta perpanjangan izin khusus dari Amerika Serikat untuk membeli minyak Rusia, sekaligus mengejar diversifikasi pasokan melalui Amerika Selatan, Kanada, dan AS. Pemerintah Filipina bahkan telah menetapkan status darurat energi nasional pada bulan sebelumnya, menanggapi kenaikan harga BBM hingga 24 %.

Respons warga di berbagai negara memperlihatkan kreativitas dalam menghadapi kenaikan biaya energi. Di Peru, banyak pengendara mengonversi kendaraan mereka ke gas alam, sementara di Filipina, pengemudi transportasi umum mengoptimalkan rute dan berbagi penumpang untuk mengurangi konsumsi BBM. Di Indonesia, petani mengandalkan bantuan BBM irigasi dan penurunan harga pupuk sebagai penyangga utama.

Berbagai inisiatif regional juga muncul. Uni Eropa, menghadapi lonjakan harga energi, mendorong program kerja sama energi (WFA) untuk mengamankan pasokan alternatif, sementara negara‑negara ASEAN meningkatkan dialog energi untuk memperkuat jaringan pasokan lintas batas.

Secara keseluruhan, krisis energi 2026 menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan antar‑lembaga dan kerjasama internasional. Pemerintah Indonesia, melalui sinergi antara Kementan, Kementerian ESDM, dan Keuangan, berupaya menjaga stabilitas pangan dan energi domestik. Malaysia mengandalkan diplomasi energi dengan Rusia, sementara Filipina menyiapkan diversifikasi sumber energi. Di tingkat masyarakat, adaptasi seperti konversi kendaraan ke gas atau berbagi transportasi menjadi bagian penting dalam mitigasi beban biaya hidup. Dengan langkah‑langkah terkoordinasi ini, wilayah Asia Tenggara berpotensi memperkecil dampak krisis energi global dan menyiapkan fondasi ketahanan energi jangka panjang.