Kerugian Bencana di Blora Tembus Rp24,9 Miliar: BPBD Sebut Jumlah Kejadian Melonjak Drastis

Berita, Blora893 Dilihat

BLORAPortalMuria.com — Kabupaten Blora kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan kerentanan bencana tertinggi di Jawa Tengah. Dalam laporan resmi terbaru, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora mencatat total kerugian akibat bencana selama kurun waktu Oktober 2024 hingga November 2025 mencapai angka fantastis, yaitu Rp24,932 miliar.

Angka ini bukan sekadar hitungan statistik. Ia menggambarkan betapa keras musim cuaca ekstrem memukul wilayah Blora sepanjang satu tahun terakhir. Infrastruktur, permukiman warga, hingga fasilitas publik menjadi korban dari rentetan kejadian alam yang tercatat meningkat secara signifikan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora, Mulyowati, memaparkan bahwa selama periode tersebut pihaknya mendata 73 kejadian bencana yang tersebar di berbagai kecamatan.

“Berdasarkan data sejak Oktober 2024 hingga November 2025, tercatat 10 kejadian banjir, 39 angin kencang, dan 24 kejadian tanah longsor. Total kerugian ditaksir mencapai Rp24,932 miliar,” jelasnya, Senin (1/12/2025).

Selain menyebabkan kerusakan fisik, sejumlah bencana yang terjadi juga berdampak pada terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat, akses pendidikan, hingga layanan publik. Jalan-jalan utama sempat tertutup material longsor, ratusan rumah rusak akibat angin kencang, dan beberapa wilayah mengalami genangan banjir berulang.

Dalam analisis BPBD, peningkatan jumlah kejadian bencana tahun ini bukan kebetulan. Tren cuaca ekstrem, perubahan pola hujan, hingga faktor kerentanan wilayah menjadi penyebab eskalasi dampak yang lebih besar.

“Dibandingkan dengan musim hujan sebelumnya, ada peningkatan baik jumlah kejadian maupun dampaknya. Kerusakan yang ditimbulkan juga lebih berat,” ungkap Mulyowati.

Ia menambahkan bahwa pola bencana di Blora menunjukkan dinamika yang semakin sulit diprediksi, sehingga diperlukan langkah mitigasi yang lebih kuat.

Memasuki Desember 2025 yang diperkirakan sebagai puncak musim hujan, BPBD memperingatkan adanya potensi kejadian susulan terutama di daerah rawan longsor seperti wilayah perbukitan dan bantaran sungai.

“Kami memperkuat koordinasi dengan camat, kepala desa, serta relawan kebencanaan untuk meningkatkan respon cepat di lapangan. Masyarakat kami imbau tetap waspada dan segera melapor jika ada tanda-tanda bencana,” tegasnya.

BPBD juga mendorong masyarakat untuk ikut memperbaiki kondisi lingkungan, misalnya membersihkan saluran air, memperkuat tebing rawan longsor, dan memastikan jalur evakuasi dapat diakses sewaktu-waktu.

Besarnya nilai kerugian yang ditimbulkan menunjukkan bahwa upaya pemulihan pascabencana akan membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan skema anggaran yang lebih adaptif, termasuk memperkuat infrastruktur mitigasi seperti tanggul, talud, dan sistem peringatan dini.

Selain itu, edukasi kebencanaan bagi masyarakat di daerah rawan dianggap penting untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa dan kerugian material di masa mendatang.

Blora kini berada dalam fase krusial: menguatkan kesiapsiagaan menghadapi sisa musim hujan sekaligus merancang strategi panjang untuk menekan kerugian yang terus membengkak dari tahun ke tahun.

(Red.)