5 Santriwati Masih Hilang Terseret Arus Sungai Lusi Blora, 3 Selamat

Berita, Blora1423 Dilihat

BLORA – PortalMuria.com | Sungai Lusi di Kedungjenar, Kecamatan Blora, berubah menjadi lokasi tragedi pada Kamis (11/12/2025) pagi. Delapan santriwati Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tahfidzul Qur’an Al Maa’uun Blora terseret arus kuat sekitar pukul 06.30–07.00 WIB. Tiga di antaranya ditemukan selamat, sementara lima lainnya hingga tengah hari belum ditemukan meski operasi pencarian besar-besaran telah digelar.

Peristiwa ini mengejutkan warga Blora. Suasana haru, panik, dan tegang tampak bercampur di sepanjang tepi Sungai Lusi yang pagi itu berarus deras akibat hujan deras malam sebelumnya.

Kesaksian mengalir dari rekan korban sendiri. Ardina Kiki Sulistyawati (13), santriwati kelas 10, menjadi salah satu saksi yang paling awal mengetahui kejadian tersebut. Dengan suara bergetar, ia menceritakan ulang momen ketika ia melihat teman-temannya masuk ke sungai.

“Awalnya mereka mau lihat arus sungai. Sudah kita ingatkan, jangan masuk karena deras. Tapi tetap masuk. Ada delapan orang,” ujar Kiki.

Menurutnya, kelompok delapan santriwati itu berasal dari tingkatan kelas yang berbeda, mulai dari kelas 7 hingga kelas 12. Mereka berencana mencari kerang di sungai, sesuatu yang biasanya dilakukan saat musim tertentu.

“Tapi kerang itu musiman. Habis hujan kayak gini airnya naik, arusnya kencang,” katanya.

Kiki mengatakan situasi memburuk ketika salah satu dari mereka yang tidak bisa berenang tiba-tiba terjebak arus dan meminta tolong. Teman-teman yang lain spontan mendekat untuk membantu. Namun upaya itu justru berbalik menjadi tragedi.

“Yang satu minta tolong, terus yang lain coba nolong. Tapi malah ikut terseret. Tiga selamat, tapi ditemukan di tempat berbeda,” jelas Kiki.

Warga setempat bernama Adit turut memberikan keterangan terkait lokasi dan situasi sebelum kejadian. Menurutnya, kelompok santriwati tersebut awalnya hendak berkunjung ke rumah ustaznya yang berada tak jauh dari Sungai Lusi.

“Awalnya mereka main ke rumah ustaznya. Terus turun ke sungai. Kondisinya habis hujan, arus sangat deras. Begitu masuk, langsung terseret,” ujarnya.

Adit menambahkan bahwa beberapa santriwati sempat berteriak meminta pertolongan sebelum arus membawa mereka semakin jauh.

“Tiga anak berhasil ditolong warga dan santri lain, tapi lima masih hilang,” tambahnya.

Tak lama setelah laporan masuk, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Blora langsung dikerahkan ke lokasi. Personel TNI dan Polri ikut memperkuat jalannya pencarian.

Tim langsung menyisir dari titik awal kejadian hingga beberapa kilometer aliran sungai ke arah hilir. Perahu karet dikerahkan. Tali pengaman, pelampung, hingga penyelam lokal disiapkan untuk melakukan pencarian di titik-titik yang rawan pusaran air.

“Kondisi sungai cukup menantang. Arusnya masih deras dan beberapa titik memiliki kedalaman yang tidak terlihat dari permukaan,” ujar seorang petugas BPBD di lokasi.

Kapolsek Blora Kota, AKP Rustam, memastikan bahwa kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk memetakan kronologi dan faktor penyebab.

“Tiga anak yang selamat sudah kami bawa ke RSUD dr. Soetijono untuk mendapatkan perawatan. Mereka masih syok,” ujar Rustam.

Rustam menyebut seluruh korban merupakan santriwati perempuan dari MBS Tahfidzul Qur’an Al Maa’uun Blora.

“Kami fokus melakukan pendalaman dan bekerja sama dengan tim SAR untuk pencarian lima korban yang belum ditemukan,” lanjutnya.

Menurut warga, Sungai Lusi memiliki karakteristik yang berubah drastis ketika hujan deras mengguyur wilayah Blora dan sekitarnya. Air yang tampak tenang pada pagi hari bisa berubah menjadi aliran deras dengan kedalaman yang sulit diprediksi.

“Kalau habis hujan, arusnya bisa tiba-tiba kuat. Ada pusaran yang tidak terlihat,” kata seorang relawan yang membantu pencarian.

Kondisi ini membuat proses pencarian menjadi cukup berisiko. Tim gabungan harus berhati-hati agar tidak terjadi korban tambahan saat melakukan penyisiran.

Hingga menjelang siang, keluarga dari para santriwati mulai berdatangan ke tepi Sungai Lusi. Beberapa tak kuasa menahan tangis dan harus dibantu oleh kerabat. Petugas memberikan pendampingan dan menenangkan keluarga agar proses pencarian tidak terganggu.

Sejumlah ustaz dan pengurus pondok pesantren turut hadir, memberikan dukungan moral bagi keluarga dan tim penyelamat.

Memasuki siang, tim SAR memperluas area pencarian hingga beberapa kilometer ke hilir. Titik-titik yang dianggap berpotensi menjadi tempat korban tersangkut seperti area dangkal, belokan sungai, dan rerumputan tebal menjadi fokus penyisiran.

Beberapa warga menggunakan perahu kecil untuk membantu mengawasi aliran sungai dari sisi-sisi yang sulit dijangkau petugas.

Operasi pencarian diperkirakan akan berlangsung hingga sore dan dapat dilanjutkan kembali pada malam hari jika diperlukan dengan bantuan lampu sorot.

Pihak MBS Tahfidzul Qur’an Al Maa’uun Blora dikabarkan sedang menyusun pernyataan resmi terkait kejadian ini. Pihak pengelola pondok disebut terus berkonsultasi dengan polisi dan BPBD untuk memastikan informasi yang disampaikan ke publik akurat dan tidak menimbulkan kesimpangsiuran.

Hingga berita ini diterbitkan, petugas gabungan masih melakukan penyisiran intensif untuk menemukan lima santriwati yang hilang.

Tragedi di Sungai Lusi ini menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi alam, terutama sungai yang tampak tenang namun menyimpan potensi bahaya besar.

Perkembangan terbaru akan disampaikan segera setelah tim SAR memberikan laporan resmi lanjutan.

(Red.)