Pati, PortalMuria.com — Banjir yang terus menghantui kawasan Kecamatan Kayen kembali menjadi sorotan tajam dari kalangan legislatif. Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, menegaskan bahwa persoalan ini tak bisa lagi dianggap sepele, sebab penyebab utamanya sudah terang-benderang: alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan jagung yang membuat daerah resapan air semakin menyempit.
“Kemarin saya ikut Musrenbang di Kecamatan Kayen untuk membahas penanganan banjir di sana. Memang ada banjir, tapi saya harap jangan sampai terlalu lama atau terlalu besar,” ujar Ali, mengingatkan pentingnya langkah cepat dan kolaboratif antara Pemkab Pati dan DPRD untuk mencari solusi jangka panjang.
Namun publik mulai gerah. Mereka mempertanyakan, mengapa belum ada langkah tegas meski penyebabnya sudah jelas di depan mata.

Nada kritik senada datang dari Anggota Komisi C DPRD Pati, Suyono, yang menyoroti banjir di Desa Trimulyo, wilayah yang saban hujan selalu tergenang. Ia menyebut dua faktor kunci penyebabnya: pendangkalan Sungai Trimulyo dan minimnya sistem drainase di sekitar Alun-alun Kayen.
“BBWS Pemali Juwana harus turun tangan segera! Sungai perlu dinormalisasi. Selain itu, peninggian jalan provinsi Pati–Grobogan juga memperparah genangan di permukiman warga. Harus ada solusi konkret, bukan janji,” tegas Suyono pada 23 Oktober 2025.
Kondisi ini seolah menjadi potret klasik persoalan banjir di Pati: analisis ada, tapi eksekusi tak kunjung nyata. Sementara itu, warga Kayen hanya bisa berharap hujan tak turun terlalu deras, karena setiap guyuran deras bisa jadi awal bencana kecil di depan rumah mereka.
(Red.)














