Pati, PortalMuria.com — Hujan deras yang mengguyur kawasan Sukolilo, Kabupaten Pati, selama beberapa hari terakhir berujung petaka. Banjir bandang melanda sejumlah desa dan menenggelamkan ratusan hektar lahan pertanian, meninggalkan kepedihan bagi para petani yang menggantungkan hidup dari tanah yang kini berubah menjadi lautan air.
Lima desa mengalami kerusakan terparah, yakni Desa Wegil, Baleadi, Wotan, Baturejo, dan Kasiyan. Menurut perkiraan sementara, ratusan hektar sawah tak lagi bisa ditanami, bahkan sebagian besar terancam gagal panen total.
SYN (54), warga Desa Wotan, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menuturkan bahwa banjir kali ini bukan sekadar genangan biasa, tetapi bencana yang menghantam sendi ekonomi warga.
“Dampaknya luar biasa. Sawah saya sudah tenggelam semua. Kalau tidak segera ditangani, jangan harap bisa tanam, apalagi panen di tahun 2026,” keluhnya, Sabtu (25/10/2025).

SYN berharap pemerintah segera turun tangan dengan langkah nyata, bukan sekadar janji.
“Harapan kami, ada pengerukan atau revitalisasi sungai di jalur banjir ini. Kalau dibiarkan, setiap musim hujan kami yang jadi korban,” ujarnya lirih.
Banjir di Sukolilo ini juga menguak masalah klasik yang selama ini diabaikan: alih fungsi hutan di kawasan Pegunungan Kendeng. Dulu, hutan rimbun menjadi penopang alami yang menyerap air hujan. Kini, sebagian besar lahan hijau itu telah berubah menjadi ladang jagung, tanpa penahan air, membuat aliran hujan langsung menerjang pemukiman dan persawahan.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Tanpa reboisasi hutan Kendeng dan penataan ulang tata air, bencana serupa akan terus berulang dan setiap tetes hujan bisa menjadi ancaman baru bagi petani Sukolilo.
(Red.)








