Jamasan Kendeng: Ritual Budaya dan Aksi Protes Ekologis di Tengah Ancaman Tambang

Pati1325 Dilihat

Pati , PortalMuria.com – Tradisi Jamasan Kendeng kembali digelar oleh warga dan aktivis pejuang lingkungan di kawasan hutan Ukirsari, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Tak sekadar seremoni budaya, prosesi ini menjadi simbol perlawanan terhadap ancaman eksploitasi industri tambang di kawasan Pegunungan Kendeng.(10/7/2025)

 

Prosesi jamasan dilakukan secara sederhana dan sakral. Tidak ada panggung mewah, hanya alas bumi dan langit sebagai atap, menggambarkan filosofi hidup selaras dengan alam. Warga Kendeng menyatu dalam ritual yang membersihkan benda pusaka, namun sejatinya bermakna lebih dalam yaitu pembersihan hati, laku, dan kesadaran manusia.

 

Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Bambang Sutiknyo, menegaskan bahwa jamasan bukan sekadar tradisi warisan leluhur. “Jamasan ini bukan hanya soal benda, tapi pembersihan laku dan niat manusia. Ia mengajarkan kita untuk menjaga lidah, perilaku, dan kehidupan,” ujarnya.

 

Bambang menambahkan, kegiatan ini juga merupakan bentuk edukasi budaya dan lingkungan. “Kami tidak sedang membersihkan gunung, tapi membersihkan hati dan kesadaran tentang pentingnya menjaga Kendeng. Kami memanfaatkan SK Kehutanan untuk memakmurkan rakyat tanpa merusak hutan,” tegasnya.

 

Pegunungan Kendeng, yang dikenal sebagai kawasan karst penyimpan cadangan air alami, kini menghadapi tekanan dari industri pertambangan. Melalui jamasan, warga menyuarakan kegelisahan atas ancaman krisis air yang semakin nyata dirasakan setiap hari.

 

“Isu krisis air bukan hanya wacana global. Ini nyata terjadi di sekitar kita. Jamasan menjadi ruang kampanye yang membumi, sekaligus ruang belajar bagi generasi muda untuk mencintai bumi dan hidup berkelanjutan,” tutur Bambang.

 

Tradisi jamasan kali ini juga didukung oleh komunitas lokal dan lembaga pendidikan. Ke depannya, prosesi ini dirancang menjadi pusat edukasi lingkungan hidup dan penelitian tanaman lokal berbasis partisipasi masyarakat.

 

Dengan semangat menjaga warisan leluhur dan alam Kendeng, Jamasan Kendeng bukan hanya perayaan, tetapi juga perlawanan—perlawanan yang sunyi, namun bermakna mendalam untuk bumi dan generasi masa depan.(Red.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *