Portal Muria – 18 April 2026 | Jordy Tutuarima, bek sayap asal Solo yang kini berlabuh di PSBS Biak, mengisahkan perjalanan kariernya yang penuh liku, termasuk pengalaman pahit terkait penundaan gaji saat bergabung dengan Persis Solo. Dalam wawancara eksklusif, pemain berusia 28 tahun ini mengaku sempat bermimpi mengenakan jersey timnas Indonesia, namun realita finansial klub menjadi penghalang besar.
Menurut Tutuarima, pada tahun 2021 ia menandatangani kontrak profesional dengan Persis Solo, klub yang kala itu sedang berambisi kembali ke puncak kompetisi Liga 1. “Saya sangat bersemangat, karena klub memiliki visi besar dan saya berharap dapat berkontribusi untuk menggapai target tersebut,” ujar Jordy. Namun, tidak lama setelah musim dimulai, ia dan beberapa rekan satu tim mulai merasakan tekanan finansial. “Gaji bulanan yang seharusnya dibayarkan pada akhir bulan selalu tertunda. Pada titik tertentu, kami tidak menerima bayaran selama tiga bulan berturut‑turut,” jelasnya.
Kasus penundaan gaji ini tidak terlepas dari sejarah panjang permasalahan keuangan di liga domestik Indonesia. Salah satu contoh paling tragis adalah kematian pemain asing asal Paraguay, Diego Mendieta, pada 2012. Mendieta meninggal karena tidak dapat menerima perawatan medis yang memadai akibat gaji empat bulan yang belum dibayarkan oleh Persis Solo. Kasus tersebut menjadi simbol kelam bagi banyak pemain yang pernah mengalami keterlambatan pembayaran.
Jordy menuturkan bahwa kondisi tersebut mengganggu konsentrasi dan performa di lapangan. “Saat perut kosong dan pikiran terfokus pada masalah ekonomi, sulit untuk memberi yang terbaik bagi tim,” katanya. Ia menambahkan bahwa klub tidak dapat menyediakan kebutuhan dasar seperti air minum setelah latihan, makanan, serta transportasi yang layak. Situasi serupa juga dialami oleh rekan-rekannya, termasuk Pablo Andrade, yang sempat mengunggah surat keluhan di media sosial sebelum dihapus karena kebijakan platform.
Masalah gaji tertunda bukan hanya terjadi di Persis Solo. Pada musim kompetisi Super League 2025/2026, sejumlah klub lain, termasuk PSBS Biak, dilaporkan mengalami penundaan pembayaran hingga tiga bulan. Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) mengonfirmasi adanya 15 pemain dari empat klub yang belum menerima upah mereka, dengan total kerugian mencapai Rp4,3 miliar. APPI menegaskan bahwa proses penanganan kasus sedang berlangsung sesuai ketentuan hukum, namun solusi konkret masih belum terlihat.
Selain menyoroti isu finansial, Jordy juga mengungkapkan bahwa mimpi bermain untuk timnas Indonesia belum terwujud. “Sejak kecil, saya selalu menonton timnas dan bermimpi menjadi bagian dari skuad Garuda,” ujarnya dengan nada haru. Ia menjelaskan bahwa performa terbaik di klub seharusnya menjadi batu loncatan, namun penundaan gaji dan kurangnya dukungan infrastruktur menghambat perkembangan pemain muda seperti dirinya.
Menanggapi pernyataan Jordy, pihak manajemen Persis Solo mengakui adanya kesulitan keuangan, namun menegaskan bahwa klub sedang berupaya menyelesaikan tunggakan gaji. “Kami menyadari dampak negatif yang timbul, dan sedang melakukan restrukturisasi keuangan serta mencari sponsor tambahan untuk menstabilkan arus kas,” kata juru bicara klub. Ia juga menambahkan bahwa klub berkomitmen untuk tidak mengulangi kejadian serupa di masa mendatang.
Para ahli sepak bola menilai bahwa masalah keterlambatan gaji di Indonesia memiliki akar pada perencanaan keuangan klub yang kurang matang. Klub-klub yang berambisi meraih gelar tanpa menilai kemampuan finansial cenderung mengalami krisis likuiditas di tengah musim. Hal ini memaksa mereka mengurangi biaya operasional, termasuk menunda pembayaran pemain dan staf.
Jordy Tutuarima berharap kisahnya dapat menjadi peringatan bagi klub dan otoritas sepak bola nasional. “Saya ingin suaraku menjadi bagian dari perubahan, agar pemain tidak lagi harus memilih antara mengisi perut atau bermain sepak bola,” tuturnya. Ia menegaskan tekadnya untuk terus berjuang, baik di lapangan maupun di luar, demi mewujudkan impian bermain untuk timnas.
Dengan latar belakang masalah gaji yang terus menjadi sorotan, Liga Indonesia diharapkan dapat memperketat regulasi lisensi dan menegakkan sanksi tegas bagi klub yang melanggar. Hanya dengan langkah konkret, profesionalisme sepak bola tanah air dapat terangkat, serta harapan pemain seperti Jordy untuk menggapai mimpi timnas menjadi lebih realistis.






