Trump Kembali Ancam Pecat Jerome Powell Jika Tidak Mundur Tepat Waktu: Dampak Politik dan Ekonomi

Politics10 Dilihat

Portal Muria – 21 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras kepada Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, dengan menyatakan bahwa jika Powell tidak mengundurkan diri tepat waktu, ia akan dicopot dari jabatannya. Pernyataan tersebut muncul di sebuah konferensi pers di Mar-a-Lago pada hari Senin, mengingatkan publik akan ketegangan yang sudah berlangsung lama antara kepresidenan dan otoritas moneter independen.

Trump menegaskan bahwa kebijakan suku bunga yang diambil Federal Reserve selama masa kepemimpinan Powell tidak sejalan dengan agenda ekonomi nasional. “Kita butuh kebijakan yang mendukung pertumbuhan pekerjaan, bukan yang mengekang investasi,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa jika Powell tidak mengundurkan diri pada akhir kuartal ini, presiden akan menggunakan seluruh wewenangnya untuk memecatnya, meski hal tersebut menimbulkan pertanyaan konstitusional.

Jerome Powell, yang menjabat sejak Februari 2018, telah berulang kali menolak tekanan politik dalam menentukan kebijakan suku bunga. Dalam beberapa bulan terakhir, Federal Reserve menaikkan suku bunga secara bertahap untuk menahan inflasi yang melambung di atas target 2 persen. Keputusan tersebut mendapat kritik keras dari kalangan pro-bisnis yang menilai kenaikan suku bunga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Berikut beberapa poin penting yang menjadi latar belakang ancaman Trump:

  • Inflasi Tinggi: Data resmi menunjukkan inflasi konsumen mencapai 6,2 persen pada kuartal terakhir, menimbulkan kekhawatiran tentang daya beli masyarakat.
  • Kenaikan Suku Bunga: Federal Reserve telah menaikkan suku bunga sebanyak lima kali sejak awal 2023, dengan target federal funds rate berada di kisaran 4,75-5,00 persen.
  • Pasar Tenaga Kerja: Meskipun angka pengangguran berada pada level terendah dalam satu dekade, beberapa sektor masih merasakan tekanan akibat biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Para ahli ekonomi menilai bahwa ancaman pemecatan terhadap Ketua Fed dapat menimbulkan ketidakpastian yang signifikan di pasar keuangan global. “Independensi Federal Reserve adalah pilar utama stabilitas ekonomi Amerika. Jika presiden dapat mencopot Ketua Fed secara sepihak, kredibilitas kebijakan moneter akan tergerus,” kata Dr. Anita Rahma, profesor ekonomi di Universitas Chicago.

Selain itu, potensi konflik konstitusional menjadi sorotan. Undang-Undang Federal Reserve menetapkan bahwa Ketua Fed dapat dipecat “for cause” oleh Presiden, namun proses tersebut biasanya melibatkan rekomendasi dari dewan dan audit independen. Para konstitusionalis menilai bahwa pemecatan tanpa alasan yang jelas dapat melanggar prinsip checks and balances yang dijamin oleh konstitusi.

Di dalam Gedung Putih, pejabat senior menyatakan bahwa diskusi mengenai masa depan Powell masih berlangsung secara internal. Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan volatilitas meningkat setelah pernyataan Trump, dengan spread Treasury 10 tahun melebar sebesar 15 basis poin dalam beberapa jam pertama.

Dalam menanggapi situasi ini, beberapa anggota Kongres, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, menyerukan dialog terbuka antara Eksekutif dan Federal Reserve. “Kita harus memastikan bahwa kebijakan moneter tetap fokus pada stabilitas harga dan pertumbuhan berkelanjutan, bukan pada agenda politik jangka pendek,” ujar Senator Maria Sanchez (D-California).

Jika Powell memutuskan untuk mengundurkan diri, proses penggantian akan melibatkan nominasi presiden yang harus disetujui oleh Senat. Kandidat potensial yang sering disebut meliputi ekonom senior, mantan pejabat Fed, atau akademisi dengan rekam jejak kebijakan moneter yang kuat.

Terlepas dari hasil akhir, ancaman ini menegaskan kembali betapa eratnya hubungan antara kebijakan moneter dan politik di Amerika Serikat. Pengawasan publik dan transparansi menjadi faktor kunci untuk menjaga kepercayaan investor serta stabilitas ekonomi domestik dan internasional.