Portal Muria – 19 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan pada Jumat, 17 April 2026, bahwa Washington siap mengambil “debu nuklir” Iran secara paksa jika negosiasi mengenai program nuklir Tehran tidak menghasilkan kesepakatan. Dalam wawancara singkat saat kembali ke Joint Base Andrews, Maryland, Trump menyatakan, “Kami akan masuk ke Iran, mengambil uranium yang diperkaya, lalu membawanya kembali ke AS.” Pernyataan tersebut menambah ketegangan yang sudah memuncak di wilayah Timur Tengah, terutama menjelang berakhirnya gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan memberlakukan pungutan di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang mengalirkan sebagian besar minyak dunia. “Tidak, tidak mungkin. Pembatasannya adalah Anda tidak boleh memberlakukan pungutan. Tidak akan ada pungutan,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi tekad AS untuk menjaga kelancaran aliran energi global sambil menekan Iran secara ekonomi melalui blokade yang masih akan berlanjut.
Ketegangan diplomatik semakin memuncak ketika Trump menyinggung kemungkinan tidak memperpanjang gencatan senjata yang sedang berlangsung. “Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, tetapi blokade akan tetap ada. Kami mungkin harus kembali menjatuhkan bom,” kata Trump, mengindikasikan kesiapan militer AS untuk melanjutkan operasi udara jika perundingan gagal. Gencatan senjata tersebut, yang awalnya difasilitasi oleh Pakistan, dijadwalkan berakhir pada Rabu mendatang, dan kegagalannya dapat memicu kembali serangan berskala besar.
- Trump menuntut Iran menyerahkan uranium yang diperkaya secara paksa.
- AS menolak pungutan di Selat Hormuz, menegaskan kebijakan bebas hambatan.
- Blokade ekonomi tetap diberlakukan meski gencatan senjata mungkin tidak diperpanjang.
- Kegagalan negosiasi dapat memicu kembali serangan militer.
Iran, melalui juru bicaranya, menolak tuduhan bahwa negara tersebut menghalangi proses perdamaian. Presiden Tehran menegaskan bahwa Tehran tetap berkomitmen pada perjanjian nuklir yang ada dan menolak tekanan eksternal yang dianggap mengancam kedaulatan nasional. “Mereka harus mengatakan sesuatu yang berbeda karena mereka punya pihak yang harus mereka layani,” ujar Trump, menyinggung apa yang ia anggap sebagai ketidakjelasan posisi Iran.
Para pengamat geopolitik menilai bahwa ancaman Trump untuk mengambil uranium secara paksa melanggar norma internasional tentang kedaulatan negara dan dapat memicu respons militer balik dari Iran. Selain itu, tindakan tersebut berpotensi menimbulkan reaksi keras dari sekutu AS di kawasan, termasuk Israel dan Arab Saudi, yang telah lama menyoroti program nuklir Tehran sebagai ancaman keamanan regional.
Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, kemungkinan akan menyoroti isu ini dalam rapat-rapat darurat, mengingat implikasi langsung terhadap stabilitas energi global dan keamanan regional. Jika AS melanjutkan blokade ekonomi dan menambah tekanan militer, risiko eskalasi ke konflik bersenjata yang lebih luas menjadi semakin tinggi.
Dalam konteks ekonomi, penutupan atau gangguan di Selat Hormuz dapat menurunkan pasokan minyak dunia hingga 20 persen, memicu lonjakan harga minyak mentah dan mempengaruhi pasar keuangan global. Negara-negara konsumen energi, terutama di Asia, diprediksi akan mencari alternatif pasokan atau meningkatkan cadangan strategis mereka.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump menandai fase baru dalam hubungan AS-Iran, di mana diplomasi dipertaruhkan dengan taktik intimidasi militer dan ekonomi. Dengan gencatan senjata yang berada di ambang akhir, dunia menantikan langkah selanjutnya dari kedua pihak. Jika negosiasi gagal, kemungkinan terjadinya konflik terbuka akan menambah beban pada sistem keamanan internasional, serta menguji ketahanan ekonomi global terhadap fluktuasi energi.








