Portal Muria – 21 April 2026 | Pasar minyak kelapa sawit (CPO) kembali menghangatkan catatan keuangan perkebunan Indonesia. Kenaikan harga CPO didorong oleh permintaan global yang kuat, kebijakan biodiesel mandatori, serta dinamika geopolitik yang menekan pasokan minyak mentah. Di tengah situasi ini, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menegaskan optimisme bahwa tahun 2026 tetap menguntungkan, meski dihadapkan pada tantangan struktural seperti fluktuasi nilai tukar, volatilitas harga minyak, dan cuaca ekstrem.
Presiden Direktur AALI, Djap Tet Fa, menjelaskan pada konferensi pers Rabu (15/4/2026) bahwa faktor penawaran‑permintaan global menjadi katalis utama pergerakan harga CPO. Sementara itu, produktivitas perkebunan masih terhambat oleh usia rata‑rata tanaman sawit yang sudah menua. Untuk mengatasi hal tersebut, AALI menyiapkan anggaran belanja modal (capex) sebesar Rp1,4 triliun, meningkat 79% dibandingkan tahun 2025 yang hanya Rp782 miliar.
Fokus utama alokasi capex tahun ini adalah program replanting atau peremajaan lahan. AALI menargetkan penanaman kembali hingga 8.000 hektar pada 2026, melampaui 5.080 hektar yang telah direplant pada 2025. Replanting diperkirakan akan menyumbang 63,8% dari total capex, diikuti oleh investasi pada mill dan pelabuhan (19,8%) serta sektor non‑plantation (16,4%).
| Komponen Capex | Persentase |
|---|---|
| Replanting | 63,8% |
| Mill & Port | 19,8% |
| Non‑Plantation | 16,4% |
Di sisi lain, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga menyoroti peluang pertumbuhan positif berkat penguatan harga CPO. Corporate Secretary Rizka Dewi menegaskan bahwa BWPT akan tetap mengedepankan efisiensi operasional, peningkatan margin, serta program replanting sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Kedua perusahaan sepakat bahwa pasar CPO tetap didukung oleh konsumsi global di sektor pangan dan energi, meski tetap terpengaruh oleh volatilitas jangka pendek.
Langkah agresif kedua perusahaan tidak terlepas dari sentimen pasar saham Indonesia yang semakin optimis. Contohnya, PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) mengumumkan rencana buyback saham senilai Rp50 miliar, mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap nilai jangka panjang ekuitas. Sentimen bullish ini memperkuat likuiditas dan memberi ruang bagi perusahaan agribisnis seperti AALI untuk mengakses pembiayaan dengan biaya yang lebih kompetitif.
Dengan peningkatan capex dan fokus pada replanting, AALI menyiapkan lahan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Tanaman muda diperkirakan menghasilkan buah lebih cepat dan memiliki efisiensi penggunaan pupuk serta pestisida yang lebih tinggi. Hal ini diharapkan dapat menurunkan biaya produksi per ton CPO, meningkatkan margin operasional, dan memperkuat posisi AALI dalam rantai nilai global.
Secara keseluruhan, kombinasi kenaikan harga CPO, kebijakan pemerintah yang mendukung biodiesel, serta investasi signifikan pada peremajaan perkebunan menandai fase pertumbuhan baru bagi Astra Agro Lestari. Jika tantangan eksternal dapat dikelola dengan baik, prospek profitabilitas dan keberlanjutan perusahaan akan semakin kuat dalam jangka menengah hingga panjang.








