Pelatihan Koperasi Pondok Pesantren di Pati: PWNU Jateng Dorong Santri Jadi Pilar Ekonomi

Pati14 Dilihat

Portal Muria – 17 April 2026 | Pondok pesantren di Kabupaten Pati menjadi saksi terselenggaranya Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemberdayaan Koperasi Pondok Pesantren yang diprakarsai oleh Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PWNU Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan dua hari, yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu, 17-18 April 2026, bertempat di Auditorium Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, menitikberatkan pada diversifikasi produk olahan ikan lele sebagai upaya meningkatkan nilai tambah ekonomi santri.

Acara ini dihadiri oleh empat puluh perwakilan koperasi pondok pesantren (Kopontren) yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Pati. Para peserta merupakan perwakilan aktif dari lembaga-lembaga pendidikan Islam yang memiliki potensi ekonomi melalui koperasi. Tujuan utama pelatihan adalah menjadikan koperasi sebagai sarana pendidikan sosial‑ekonomi yang terintegrasi, sekaligus membekali santri dengan keterampilan wirausaha yang relevan dengan sektor pertanian dan perikanan.

Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin yang akrab disapa Gus Rozin, menekankan pentingnya kesadaran santri untuk terjun ke dunia kewirausahaan. “Harapannya santri‑santri tergugah memiliki kesadaran untuk bersedia menjadi entrepreneur pertanian, perikanan, dan kemudian itu menjadi salah satu fondasi kemandirian mereka, baik kemandirian personal maupun kemandirian pesantren,” ujarnya dalam sambutan pembukaan. Gus Rozin menambahkan bahwa koperasi pesantren dapat menjadi platform yang efektif untuk menyalurkan ide‑ide inovatif sekaligus memperkuat jaringan ekonomi lokal.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), juga memberikan motivasi kepada para peserta. Ia menekankan pentingnya penyebaran ilmu yang didapatkan selama pelatihan kepada seluruh unit usaha di yayasan atau pesantren masing‑masing. “Ilmu yang didapat tidak hanya berhenti pada santri yang diutus, melainkan harus dibagikan kepada pelaku unit usaha lain agar usaha yang ada dapat berjalan terus secara istiqomah,” kata Gus Yasin. Ia menyoroti peran teknologi sebagai katalisator perubahan mindset negatif masyarakat terhadap pertanian dan peternakan, dengan harapan proses budidaya hingga pengemasan lele menjadi lebih maksimal dan menarik bagi konsumen.

Pembicaraan Gus Yasin juga menyinggung pentingnya pengembangan keterampilan manajerial dan pribadi santri. “Bukan hanya khidmah, tapi manajemen serta skill pribadi juga perlu dikembangkan. Harapannya saat di rumah nanti, keterampilan yang didapat di pesantren bisa diteruskan dan dikembangkan agar lebih berkah,” tambahnya.

Selain itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramiyanto, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan produktivitas 113 pondok pesantren yang telah terdata sejak akhir tahun lalu. “Kami melakukan pelatihan bagi para santri untuk mengubah produk hulunya, yaitu lele, menjadi produk hilir. Tujuannya agar usaha yang dikelola pesantren meningkat secara signifikan, baik dari pola pemasaran maupun penggunaan teknologinya,” ujarnya.

Selama sesi Bimtek, para peserta diberikan materi tentang teknik budidaya lele yang ramah lingkungan, proses pengolahan pasca panen, serta strategi pemasaran digital. Beberapa poin penting yang dibahas meliputi:

  • Penerapan sistem bioflok untuk meningkatkan efisiensi produksi lele.
  • Penggunaan mesin pengemas otomatis guna menjaga kebersihan dan memperpanjang masa simpan produk.
  • Strategi branding produk lele sebagai makanan sehat dan bergizi untuk pasar lokal dan nasional.
  • Penerapan platform e‑commerce dan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.
  • Manajemen keuangan koperasi pesantren, termasuk pencatatan pemasukan‑pengeluaran dan pelaporan transparan.

Gus Rozin menegaskan komitmen PWNU Jawa Tengah untuk terus memperluas jaringan pelatihan serupa. Hingga kini, tercatat sudah ada dua belas titik kegiatan yang dikerjasamakan dengan pemerintah provinsi, mencakup wilayah-wilayah strategis di Jawa Tengah. Ia menambahkan bahwa ke depan, PWNU berencana menambah jumlah titik pelatihan dan memperluas fokus ke sektor pertanian lain, seperti budidaya padi organik dan hortikultura.

Para peserta menyatakan antusiasme tinggi terhadap materi yang disampaikan. Salah satu perwakilan Kopontren, Ustadz Ahmad Fauzi, mengatakan, “Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang bagaimana mengolah lele menjadi produk bernilai tinggi. Kami siap menerapkan ilmu ini di pesantren masing‑masing dan mengajak santri lain untuk ikut berpartisipasi.”

Secara keseluruhan, Bimtek di Pati tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan yang dapat mengubah paradigma ekonomi tradisional pesantren menjadi model ekonomi berbasis koperasi yang mandiri dan berkelanjutan. Diharapkan, dengan dukungan pemerintah daerah, PWNU, serta lembaga‑lembaga terkait, koperasi pondok pesantren dapat menjadi pilar utama dalam meningkatkan kesejahteraan santri, memperkuat ekonomi lokal, dan memberi kontribusi positif terhadap perekonomian Jawa Tengah secara lebih luas.

Dengan landasan kuat pada nilai-nilai keagamaan dan semangat inovasi, inisiatif ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengoptimalkan potensi ekonomi pesantren melalui koperasi yang terkelola profesional.