Utoyo Hadi Berpulang, Jejak Sang Maestro Seni Jepara Tetap Hidup

Berita, Jepara124 Dilihat

JEPARAPORTALMURIA.com – Kabar duka menyelimuti dunia seni rupa. Perupa senior asal Jepara, Utoyo Hadi, telah berpulang. Kepergiannya meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga, sahabat, para seniman, serta mereka yang pernah belajar dan berinteraksi dengannya.

Ketua Umum Ajicakra Indonesia, Tri Hutomo, mengenang Utoyo Hadi sebagai sosok seniman yang tekun, produktif, memiliki wawasan luas, sekaligus dikenal memiliki kecintaan yang kuat terhadap budaya.

“Pak Utoyo Hadi adalah seorang perupa dan seniman senior asal Jepara yang dikenal produktif dan menjadi guru tauladan para seniman lukis di Jepara pada khususnya. Beliau gemar lintas disiplin ilmu serta memiliki kecintaan yang besar terhadap budaya,” ujar Tri Hutomo dalam ungkapan dukacitanya.

Menurut Tri, perjalanan hidup Utoyo Hadi juga tidak dapat dilepaskan dari keluarga seniman Hadi yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni rupa dan patung.

Utoyo Hadi merupakan adik dari Waloeyo Hadi, seniman Jepara yang dikenal sebagai salah satu tokoh di balik pembuatan Patung Kartini di Jepara. Sejumlah pemberitaan sebelumnya mencatat bahwa Utoyo Hadi dan S. Handono Hadi turut membantu Waloeyo dalam proses pembuatan patung tersebut.

Jejak Utoyo Hadi di dunia seni rupa juga tercatat cukup panjang. Namanya pernah masuk dalam berbagai pameran seni rupa, termasuk pameran bertajuk Abstract Party di Borobudur yang diikuti sejumlah perupa dari berbagai daerah dan negara.

Karya Utoyo Hadi juga tercatat dalam pameran Soulscape, dengan sejumlah karya seperti Katilda 1, Katilda 2, dan Katilda 3 yang dibuat pada 2011.

Di Jepara, keberadaan Utoyo Hadi juga masih terlihat dalam berbagai kegiatan seni. Pada 2022, misalnya, ia tercatat sebagai salah satu seniman senior yang hadir dalam pameran Ambah Pesisiran yang menjadi bagian dari rangkaian menuju Jepara Environmental Art Biennale (JEAB). Pameran tersebut membawa pesan mengenai seni sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Sementara itu, kiprahnya di Sumatera Utara juga tidak berhenti. Nama Utoyo Hadi masih tercatat dalam perkembangan seni rupa Medan. Pada November 2025, ia menjadi salah satu dari sembilan perupa yang mengikuti pameran “Jelajah Ekspresi 9 Perupa” di Taman Budaya Medan. Pameran tersebut mempertemukan perupa lintas generasi dan menampilkan keberagaman ekspresi seni rupa Sumatera Utara.

Bagi Tri Hutomo, kepergian Utoyo Hadi bukan berarti berakhirnya pengabdian seorang seniman. Justru karya, gagasan, dan nilai keteladanan yang ditinggalkannya akan terus menjadi bagian dari perjalanan seni dan budaya.

“Seniman boleh pergi, tapi goresan tangannya akan terus hidup.”

 

Tri Hutomo menyampaikan penghargaan atas dedikasi, kepribadian, ilmu, serta keteladanan yang telah diberikan Utoyo Hadi selama hidupnya.

“Kami keluarga besar Ajicakra Indonesia turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga amal jariyah beliau diterima Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya,” ungkap Tri.

Kepergian Utoyo Hadi menjadi kehilangan bagi dunia seni. Namun sebagaimana karya seni yang tidak berhenti berbicara setelah tangan penciptanya terdiam, warisan pemikiran dan karya sang perupa diharapkan tetap hidup, dikenang, serta menjadi inspirasi bagi generasi seniman berikutnya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

(Red.)