Ketegangan di Selat Hormuz Memuncak: Blokade AS, Negosiasi Iran, dan Dampak pada Harga Minyak Global

Nasional30 Dilihat

Portal Muria – 21 April 2026 | Pergolakan di Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah serangkaian aksi militer, diplomatik, dan ekonomi mengubah dinamika alur perdagangan minyak. Pada minggu terakhir, kapal-kapal komersial yang melintasi selat sempit itu mengalami penurunan lalu lintas secara tiba-tiba, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade akan tetap berlangsung sampai tercapai kesepakatan dengan Tehran.

Menurut laporan terbaru, lebih dari dua puluh kapal berhasil menembus Selat Hormuz pada Sabtu, mencatat angka tertinggi sejak awal Maret. Data tersebut berasal dari firma analisis pelayaran Kpler dan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas meski blokade masih diterapkan. Di antara kapal yang lewat, lima mengangkut muatan dari Iran, termasuk tiga kapal pengangkut gas cair (LPG) yang masing-masing menuju China dan India.

Blokade yang dipimpin Angkatan Laut AS ini berawal dari penangkapan kapal kontainer berlayar dengan bendera Iran, Touska, oleh kapal perusak rudal USS Spruance di Teluk Oman. Presiden Trump mengklaim bahwa kapal tersebut berusaha menembus blokade dan menolak peringatan, sehingga AS “menembus ruang mesin” kapal tersebut. Penangkapan ini memicu balasan cepat dari militer Iran yang meluncurkan serangan drone terhadap armada AS, yang kemudian dikategorikan oleh Tehran sebagai “pirasi bersenjata”.

Situasi ini memperkeruh prospek pembicaraan damai yang dijadwalkan di Islamabad, Pakistan. Kedua negara, dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan pejabat senior Amerika lainnya, tengah bersiap menempuh perjalanan ke Pakistan untuk negosiasi dengan perwakilan Iran. Meskipun ada sinyal positif dari Tehran, termasuk pernyataan pejabat senior bahwa Iran “positively reviewing” partisipasi, belum ada keputusan final. Sumber dari Reuters menyebutkan bahwa Iran mempertimbangkan keikutsertaan setelah Pakistan berupaya mengakhiri blokade pada pelabuhan Iran.

Sementara itu, Presiden Trump terus menekankan bahwa blokade tidak akan berakhir sebelum Iran menyerahkan program nuklirnya. Dalam sebuah posting di Truth Social, ia menegaskan bahwa Iran kehilangan “$500 juta per hari” akibat blokade, menambah tekanan ekonomi pada Tehran. Pada saat yang sama, Trump menyatakan kesiapan untuk bertemu langsung dengan pemimpin Iran jika terobosan tercapai, sekaligus menuduh media Barat menyebarkan “fake news” tentang kemajuan perang.

Dampak ekonomi langsung terlihat pada pasar minyak global. Citi memperkirakan bahwa harga minyak mentah bisa melonjak hingga $110 per barel jika blokade berlanjut, sementara Brent dan WTI pada hari Senin mencatat kenaikan masing-masing 5,32% dan 5,92% akibat kekhawatiran pasokan. Menteri Keuangan Iran, Mohammad Reza Aref, menanggapi dengan menulis di X bahwa “pilihan jelas: pasar minyak bebas untuk semua atau risiko biaya signifikan bagi semua pihak.” Ia menambah bahwa tekanan militer dan ekonomi pada ekspor minyak Iran tidak akan menghentikan aliran energi secara permanen.

Di arena diplomatik, Presiden China Xi Jinping dalam panggilan telepon dengan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, menyerukan agar jalur pelayaran di Hormuz tetap terbuka. China menegaskan peran konstruktifnya dalam tahap kritis pembicaraan US-Iran, sambil mengingatkan pentingnya stabilitas pasar energi bagi perekonomian global.

Selain Amerika Serikat dan Iran, negara-negara lain juga mengeluarkan pernyataan. India menyoroti bahwa penerbangan komersial ke wilayah yang masih terbuka tetap beroperasi, sementara Malaysia dan Qatar melaporkan upaya untuk mengembalikan layanan penerbangan asing. Di sisi lain, Israel mengklaim Iran memaksa “ratusan kapal” menuju pelabuhan AS, meski tidak ada bukti konkret yang dipublikasikan.

Ketegangan di Hormuz juga menimbulkan kecemasan di sektor maritim regional. Kedutaan Besar Iran di Moskow menegaskan bahwa keamanan pelayaran dijamin oleh rezim hukum internasional yang mengatur selat tersebut. Namun, insiden tembakan terhadap dua kapal India di dekat selat menambah ketegangan, memaksa kementerian luar negeri India memanggil duta Iran untuk menyampaikan keprihatinan.

Sejumlah analis menilai bahwa kontrol strategis atas Selat Hormuz tetap menjadi prioritas utama Iran, sebagaimana diungkapkan oleh anggota parlemen Iran, Ebrahim Azizi, yang menegaskan bahwa negara tidak akan pernah melepaskan otoritasnya atas jalur penting ini. Sementara itu, pejabat militer Iran mengancam balasan lebih lanjut jika serangan AS berlanjut, menciptakan potensi eskalasi lebih luas di kawasan Teluk Persia.

Di tengah dinamika tersebut, pihak internasional menyerukan de-eskalasi. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut penutupan selat sebagai “kesalahan di kedua belah pihak” dan mengajak semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi. Namun, dengan blokade masih aktif dan negosiasi belum mencapai titik temu, risiko gangguan pasokan energi global tetap tinggi.

Kesimpulannya, ketegangan di Selat Hormuz mencerminkan persaingan geopolitik antara AS dan Iran yang melibatkan banyak aktor regional dan global. Blokade militer, serangan balasan, dan tekanan ekonomi menambah kompleksitas negosiasi damai yang sedang berlangsung di Islamabad. Sementara pasar minyak merespons dengan kenaikan tajam, negara-negara konsumen energi tetap waspada terhadap potensi gangguan lebih lanjut. Masa depan alur perdagangan di selat ini masih bergantung pada kemampuan diplomatik para pemimpin untuk menemukan solusi yang dapat menurunkan ketegangan sekaligus melindungi kepentingan strategis masing-masing pihak.