Harga Minyak Dunia Terkoreksi Tajam Usai Iran Buka Selat Hormuz, Bursa AS Cetak Rekor Baru

Ekonomi13 Dilihat

Portal Muria – 19 April 2026 | Iran mengumumkan pada Jumat, 17 April 2026, bahwa Selat Hormuz kembali dibuka penuh untuk kapal‑kapal komersial selama periode gencatan senjata yang sedang berlangsung. Pengumuman ini langsung meredakan kekhawatiran pasar energi global yang selama beberapa minggu tertekan akibat penutupan jalur strategis tersebut.

Reaksi paling nyata terlihat pada harga minyak mentah. West Texas Intermediate (WTI) turun 9,4% menjadi US$82,59 per barel, sementara Brent turun 9,1% menjadi US$90,38 per barel. Kedua indeks mencatat penurunan terbesar sejak konflik dimulai, meski level harga tetap di atas kisaran pra‑konflik sekitar US$70 per barel.

  • WTI: US$82,59 per barel (–9,4%)
  • Brent: US$90,38 per barel (–9,1%)
  • Penurunan harian terbesar sejak 10 Maret 2026

Kelegaan di pasar energi sekaligus mendorong reli di bursa Amerika Serikat. Indeks S&P 500 naik 1,2% dan mencetak level tertinggi sepanjang masa, menandai tiga pekan beruntun penguatan terpanjang sejak Oktober 2025. Dow Jones Industrial Average melonjak 1,8% (+868 poin) dan menutup di 49.447, sementara Nasdaq Composite menguat 1,5%.

Presiden Donald Trump menanggapi pembukaan Hormuz melalui platform Truth Social, mengucapkan terima kasih kepada Tehran namun menegaskan blokade laut terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku sampai “transaksi” antara kedua negara selesai 100%. Pernyataan ini menambah lapisan ketidakpastian politik meskipun pasar tampak optimis.

Dampak penurunan harga minyak tidak terbatas pada sektor energi. Harga bahan pangan dan biaya logistik, yang sangat sensitif terhadap fluktuasi energi, diproyeksikan mengalami tekanan turun moderat. Analis ekonomi memperkirakan bahwa penurunan minyak dapat menurunkan inflasi global sebesar 0,2% hingga 0,3% dalam kuartal berikutnya, asalkan pasokan tetap stabil.

Namun, para pengamat memperingatkan bahwa keterbukaan Selat Hormuz masih bersifat sementara. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghshi, menegaskan bahwa jalur akan tetap terbuka hanya selama masa gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 22 April. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengancam akan menutup kembali selat bila blokade AS tidak dicabut, menandakan risiko geopolitik yang masih tinggi.

Secara keseluruhan, pembukaan kembali Selat Hormuz memberi suntikan kepercayaan pada pasar energi dan saham global, namun ketegangan antara Washington dan Teheran tetap menjadi faktor penghambat stabilitas jangka panjang. Investor diimbau terus memantau perkembangan diplomatik serta data inventaris minyak global untuk menilai apakah penurunan harga dapat berlanjut atau hanya bersifat sementara.