Portal Muria – 18 April 2026 | Jakarta, Kompas.com – Aktor senior Della Puspita kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkap keputusan dramatisnya menjual rumah keluarga demi menjamin kebutuhan anak-anaknya. Keputusan tersebut bukan sekadar langkah finansial, melainkan bentuk protes terhadap kurangnya perhatian mantan suaminya, Jocky Fernando, yang dianggapnya mengabaikan tanggung jawab sebagai ayah.
Dalam wawancara eksklusif di program “Pagi Pagi Ambyar”, Della menyampaikan bahwa penjualannya bukan bermaksud menuntut nafkah, melainkan untuk memastikan anak‑anaknya tidak kekurangan. “Kalau untuk nafkah, alhamdulillah anak‑anakku tidak kekurangan kok,” ujarnya tegas. Ia menambahkan bahwa selama bertahun‑tahun ia telah memaklumi sikap Jocky yang tidak rutin memberikan uang makan atau kebutuhan lainnya, meski pada awal pernikahan Jocky sempat memberikan bantuan bila ada rezeki.
Situasi menjadi lebih rumit ketika Della mengingat kembali masa lalu, ketika ia rela mengeluarkan uang pribadi untuk membiayai kuliah Jocky. “Aku memupuk kamu sampai kamu bisa kerja, kamu punya gelar, itu buat anak‑anak, tidak perlu kamu ucapkan terima kasih atau balas budi,” katanya dengan nada yang tidak menyembunyikan rasa kecewa. Pernyataan ini menegaskan bahwa Della tidak mengharapkan balasan materi, melainkan pengakuan moral dan kehadiran sang ayah dalam hidup anak‑anaknya.
Kasus yang paling menyentuh hati Della adalah pengalaman putrinya, Miyako, yang menunggu ayahnya dengan penuh harap. “Miyako anaknya polos, ‘Dek, udah makan belum?’ ‘Belum Mi, nanti mau diajak papi pergi makan,'” kata Della sambil meneteskan air mata. Namun, rencana itu tidak pernah terwujud. Pada suatu malam, Miyako menunggu hingga jam 09.00 malam tanpa adanya kabar dari Jocky, bahkan sampai tidak makan karena menantikan ayahnya.
Pengalaman pahit tersebut menambah beban emosional pada Della, yang kini harus menyeimbangkan antara peran ibu tunggal dan penyedia kebutuhan rumah tangga. Menjual rumah keluarga menjadi langkah pragmatis untuk mengurangi beban keuangan, sekaligus memberi contoh bahwa seorang ibu dapat mengorbankan segalanya demi kesejahteraan anak.
Meski Jocky Fernando telah menikah kembali, Della menegaskan bahwa ia tidak mengharapkan apapun selain sekadar pertanyaan sederhana seperti “adek udah makan?”. Ia berharap sang mantan suami dapat kembali mengingat bahwa ia memiliki anak‑anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian. “Aku cukup kepengin kamu inget bahwa kamu punya anak. Itu aja,” tegas Della.
Pengakuan Della ini memicu perbincangan luas di media sosial tentang hak orang tua tunggal, tanggung jawab nafkah, serta etika moral dalam hubungan pasca perceraian. Beberapa netizen memberikan dukungan penuh kepada Della, sementara yang lain mengkritik sikap Jocky yang dianggap mengabaikan kewajiban.
Di sisi lain, Della juga menegaskan bahwa ia tidak akan menuntut nafkah secara hukum. “Seperak pun tidak pernah minta hasil kerjaannya, tidak ada,” katanya. Keputusan ini menegaskan sikapnya yang lebih mengutamakan kesejahteraan emosional anak dibandingkan pertarungan hukum yang berlarut‑larut.
Kasus Della Puspita menjadi contoh nyata bagaimana konflik keluarga dapat bereskalasi menjadi permasalahan publik, terutama ketika melibatkan figur publik. Keputusan menjual rumah demi anak menunjukkan komitmen seorang ibu dalam menyediakan yang terbaik, meski harus menanggung beban pribadi yang berat.
Dengan demikian, cerita Della tidak hanya sekadar drama pribadi, melainkan refleksi sosial tentang pentingnya tanggung jawab orang tua, terutama ayah, dalam memberikan perhatian dan dukungan moral kepada anak‑anaknya. Harapan Della tetap sederhana: agar Jocky Fernando dapat kembali mengingat peran pentingnya dalam kehidupan anak‑anak mereka.








