PATI, PortalMuria.com — Publik Kabupaten Pati kembali dibuat terbelalak. Setelah sempat terhenti akibat gelombang kritik, pekerjaan revitalisasi Alun-alun Pati mendadak berjalan lagi. Sejumlah pekerja terlihat membongkar berbagai titik fasilitas, mulai dari kursi beton di bawah pohon ringin hingga ornamen lampu di sisi selatan alun-alun. Berbagai tanaman pun tampak diperemaja, menandai bahwa proyek ini resmi bergulir kembali.
Di media sosial, warganet Pati ramai membicarakan pembongkaran tersebut. Banyak yang mempertanyakan mengapa pekerjaan yang sebelumnya dihentikan kini berjalan lagi tanpa pemberitahuan yang jelas. Di lapangan, aktivitas pekerja memang tak lagi bisa dibantah: sejumlah titik sudah diratakan, sebagian lain sedang dalam proses pembenahan.
Di tengah suara publik yang gaduh, Bupati Pati Sudewo buka suara. Ia menegaskan bahwa perbaikan Alun-alun Pati bukanlah proyek renovasi besar-besaran. Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan hanya bersifat penataan ringan dan tidak membutuhkan anggaran besar.
“Tidak renovasi kok. Anggarannya kecil saja, kira-kira hanya Rp20 juta,” ujar Sudewo.
Sudewo beralasan, beberapa fasilitas seperti tempat duduk dinilai tidak berfungsi optimal dan justru mengganggu jalur pejalan kaki maupun warga yang berolahraga. “Ada empat tempat duduk yang tidak pernah dipakai, tapi menghalangi lintasan. Ini demi kenyamanan masyarakat,” katanya.

Namun pernyataan Sang Bupati justru bertolak belakang dengan data teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pati.
Slamet Budi Setiyanto, Fungsional Penata Kelola Bangunan Gedung Cipta Karya DPUPR Pati, mengungkapkan bahwa proyek revitalisasi Alun-alun Pati telah dianggarkan sebesar Rp299 juta. Pekerjaan tersebut, kata dia, dikerjakan oleh CV Abadi Makmur dan memiliki masa kontrak 40 hari kerja, mulai 29 Oktober hingga 7 Desember 2025.
“Pekerjaannya memang sudah berjalan sejak akhir Oktober. Kontraknya dari 29 Oktober sampai 7 Desember,” ujar Slamet.
Perbedaan informasi antara pernyataan Bupati dan data DPUPR inilah yang membuat publik semakin bingung. Warga mempertanyakan mana angka yang benar, dan mengapa terjadi perbedaan begitu mencolok antara Rp20 juta dan Rp299 juta.
Revitalisasi ini sejatinya bukan proyek baru. Rencana tersebut sudah muncul sejak pertengahan tahun lalu, namun langsung menuai kritik karena dianggap tidak mendesak. Terlebih, saat itu masyarakat tengah dicekik kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Banyak warga menolak dan meminta pemerintah fokus pada kebutuhan prioritas seperti perbaikan jalan dan layanan publik lainnya.
Proyek revitalisasi Alun-alun akhirnya sempat dihentikan. Bupati Sudewo juga membatalkan rencana renovasi Masjid Agung dan beberapa agenda perbaikan jalan sebagai respons atas tekanan publik.
Kini, ketika proyek itu kembali dijalankan, warga bertanya-tanya:
Apa yang berubah? Mengapa proyek yang sempat ditunda kembali berjalan? Dan berapa sebenarnya anggaran revitalisasi Alun-alun ini?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lanjutan mengenai perbedaan nilai anggaran tersebut. Publik Pati menunggu jawaban yang lebih transparan dari pemerintah daerah.
(Red.)








