Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam, Ketegangan AS‑Iran di Selat Hormuz Memicu Kekhawatiran Pasar

Ekonomi5 Dilihat

Portal Muria – 21 April 2026 | Pada perdagangan Senin, 20 April 2026, pasar minyak dunia mengalami lonjakan harga yang signifikan setelah serangkaian insiden militer di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Insiden tersebut melibatkan serangan bersama antara Angkatan Laut Amerika Serikat dan Garda Revolusi Iran terhadap kapal komersial yang melintasi selat strategis tersebut, yang biasanya menyalurkan sekitar satu per lima produksi minyak dan gas cair dunia.

Kenaikan harga paling menonjol terlihat pada kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, yang naik hampir 7 persen dan ditutup pada level USD 89,61 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni melambung lebih dari 5 persen ke USD 95,48 per barel. Data tambahan dari sumber lain mencatat bahwa pada pagi hari yang sama, WTI diperdagangkan pada USD 88,54 per barel (kenaikan 5,6 persen) dan Brent berada di USD 94,18 per barel (kenaikan 4,3 persen). Perbedaan kecil ini mencerminkan volatilitas yang tinggi akibat spekulasi pasar.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa Marinir AS mengambil alih sebuah kapal kontainer Iran di Teluk Oman setelah kapal tersebut diduga mencoba menembus blokade laut yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan Iran. Trump menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz pada hari sebelumnya. Iran, melalui juru bicaranya, menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata dua minggu yang sedang berlangsung, dan menyatakan akan menutup selat tersebut kembali jika blokade tidak dicabut.

Kondisi geopolitik ini menambah tekanan pada pelaku pasar energi. Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING, menyebutkan bahwa setiap eskalasi militer di wilayah Timur Tengah secara otomatis memicu pergerakan harga minyak karena para pedagang mengantisipasi potensi pemutusan aliran suplai. Bob Yawger, direktur futures energi di Mizuho, menambahkan bahwa meski pasar belum mengalami perang skala penuh, rasa tidak pasti yang meluas dapat menahan penurunan harga yang sempat terjadi pada akhir pekan sebelumnya.

Data lalu lintas kapal menunjukkan bahwa pada 12 jam terakhir, hanya tiga kapal komersial yang berhasil melewati Selat Hormuz, menandakan penurunan signifikan dibandingkan dengan rata-rata harian. Namun, catatan Kpler melaporkan bahwa pada hari Sabtu, sebanyak lebih dari 20 kapal melintasi selat, mencatat peningkatan tertinggi sejak awal Maret. Fluktuasi ini menandakan bahwa meskipun ada upaya membuka kembali jalur, kondisi keamanan masih belum stabil.

  • WTI (Mei) – USD 89,61 per barel (+6,9%)
  • WTI (pagi Senin) – USD 88,54 per barel (+5,6%)
  • Brent (Juni) – USD 95,48 per barel (+5,6%)
  • Brent (pagi Senin) – USD 94,18 per barel (+4,3%)

Para analis menilai bahwa jika gencatan senjata tidak berhasil dipertahankan, harga minyak dapat melaju lebih tinggi lagi, mengingat sebagian besar pasokan dunia masih bergantung pada aliran melalui Selat Hormuz. Di sisi lain, jika kedua negara mampu menurunkan ketegangan dan membuka kembali jalur perdagangan, pasar diproyeksikan akan menyesuaikan diri dalam beberapa minggu ke depan, meski tidak ada jaminan bahwa harga akan kembali ke level sebelum krisis.

Dalam konteks domestik, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menaikkan biaya energi di Indonesia, terutama pada sektor transportasi dan industri pengolahan. Pemerintah diperkirakan akan memantau perkembangan ini secara dekat untuk menyesuaikan kebijakan subsidi dan tarif energi, guna melindungi konsumen dari dampak inflasi yang lebih luas.

Secara keseluruhan, situasi di Selat Hormuz mempertegas kembali betapa sensitifnya pasar energi terhadap dinamika geopolitik. Investor, produsen, serta pembuat kebijakan harus siap menghadapi fluktuasi harga yang tajam, sambil terus memantau langkah diplomatik antara AS dan Iran yang menjadi faktor penentu utama kestabilan pasokan minyak global.