Pengajian Akbar Haul Mbah Surgi Suro Wencono dan Sedekah Bumi Dukuh Penggung Ngagel: Kebersamaan Warga Pati yang Khidmat

Pati6 Dilihat

Portal Muria – 18 April 2026 | Warga Dukuh Penggung, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, menggelar Pengajian Akbar pada Selasa 15 April 2026 malam untuk memperingati Haul Mbah Surgi Suro Wencono sekaligus melaksanakan tradisi Sedekah Bumi. Acara yang berlangsung khidmat itu menghadirkan Kiai Haji Amad Muzaidun, yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Zaid Pati, serta pengiring qasidah Gamelan Santri dari Karangrowo, Pati.

Dengan mengusung tema “Nderek Lampahing Para Wali. Arab Digarap, Jowo Digowo. Zaman Wes Tuwo, Sing Eling lan Waspodo”, pengajian berhasil menarik ratusan warga desa dan sekitarnya. Dalam sambutannya, Kepala Desa Ngagel, Suwardi, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia menekankan bahwa tradisi Sedekah Bumi menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan serta menggerakkan pembangunan desa menuju slogan “noto deso dadi kutho”—menjadikan desa sebagai kota yang mandiri.

Suwardi juga menjelaskan rencana pelaksanaan kirab pawai jegul atau ancak, yang selama ini dilaksanakan selama dua hari. Tahun ini, karena luas wilayah Desa Ngagel, seluruh desa di sekitar—Ngagel, Penggung, dan Cepoko—sepakat melaksanakan kirab secara serentak pada Minggu, 19 April 2026. Keputusan itu diharapkan dapat memperpendek waktu pelaksanaan sekaligus meningkatkan semangat kebersamaan antar‑desa.

Dalam tausiahnya, Ki Zaid Pati menegaskan pentingnya sedekah dalam kehidupan sehari‑hari. Menurutnya, sedekah bukan sekadar memberi materi, melainkan juga membersihkan harta, menghapus dosa, menolak bencana, dan melunakkan hati. Ia mencontohkan dengan perumpamaan sederhana: “Sodaqoh niku sangat penting walau hanya seteguk air. Kadhos wong ahli kubur niku nangis ora karuan nasibe, kaya dene wong klelep nek segoro, njaluk tulung njaluk donga karo wong sing urip.”

Ki Zaid Pati menambahkan bahwa tradisi Sedekah Bumi sebenarnya merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah. Masyarakat menyumbangkan hasil bumi—seperti beras, sayuran, dan hasil pertanian lainnya—sementara berdoa memohon kemakmuran dan keselamatan bersama. Ia mengutip ayat Al‑Quran Surat Ibrahim ayat 7, yang mengingatkan bahwa rasa syukur akan menambah nikmat, sedangkan ingkar akan menimbulkan azab yang keras.

  • Rasa syukur meningkatkan keberkahan.
  • Sedekah membersihkan harta dan hati.
  • Tradisi Sedekah Bumi mempererat tali persaudaraan.

Untuk menyampaikan pesan moral, Ki Zaid Pati menggunakan media wayang kulit sebagai metafora perilaku manusia. Ia menampilkan tokoh-tokoh kebajikan seperti Pendawa Lima dan Punakawan, serta antagonis seperti Rahwana, Duryudana, Sengkuni, dan Buto Cakil, untuk mengilustrasikan konsekuensi perbuatan baik dan buruk.

Menjelang akhir pengajian, Ki Zaid Pati mengajak jamaah mengingat pesan “goro‑goro”—yaitu mengingat kebaikan dan melaksanakan ibadah secara konsisten. Ia menutup dengan doa agar semua orang selalu ingat pada kebaikan, bersyukur, dan memelihara rukun Islam.

Acara Haul Mbah Surgi Suro Wencono dan Sedekah Bumi ini tidak hanya menjadi ajang religius, tetapi juga sarana edukasi nilai‑nilai budaya Jawa Tengah. Dengan menekankan pentingnya bersyukur, beramal, serta menjaga keutuhan sosial, pengajian ini diharapkan menjadi contoh bagi desa‑desa lain di wilayah Pati untuk memperkuat identitas budaya sekaligus memajukan kesejahteraan bersama.

Secara keseluruhan, pengajian akbar ini berhasil menyatukan warga, meneguhkan tradisi, dan menumbuhkan semangat gotong‑royong. Diharapkan, momentum ini akan terus berlanjut dalam program pembangunan desa, sehingga harapan “noto deso dadi kutho” dapat terwujud dalam waktu dekat.