Petani Muda Pati Raup Rp2 Juta per Minggu dari Jeruk Nipis, Pembeli Justru Tak Terlayani

Berita, Ekonomi22 Dilihat

PATI, PortalMuria.com – Lahan tak harus luas untuk menghasilkan peluang ekonomi. Di Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Agus Kacak membuktikan bahwa budidaya jeruk nipis bisa menjadi alternatif usaha pertanian yang menjanjikan. Bermodal lahan sekitar 5.000 meter persegi, ia mampu memperoleh omzet penjualan hingga Rp2 juta per minggu. Ironisnya, produksi kebunnya justru belum sanggup memenuhi seluruh permintaan pembeli.

Di tengah perkebunan yang didominasi tanaman singkong, Agus memilih menempuh jalan berbeda. Ia mengembangkan jeruk nipis sebagai komoditas alternatif setelah budidaya pisang yang sebelumnya diandalkan kerap menghadapi kendala penyakit dan gangguan pertumbuhan.

Keputusan tersebut bermula dari percobaan sederhana. Agus menanam sekitar 200 batang jeruk nipis di sela-sela tanaman pisang yang sudah tumbuh di lahannya. Meski awalnya belum banyak memahami teknik budidaya jeruk nipis, ia terus merawat tanaman tersebut hingga mulai menunjukkan hasil.

Seiring waktu, jeruk nipis justru memperlihatkan prospek yang menarik. Dari lahan yang relatif terbatas, Agus menemukan peluang usaha yang kini memiliki pasar tersendiri.

Dalam perjalanannya, Agus melakukan penjarangan tanaman. Dari sekitar 200 batang yang pernah ditanam, kini tersisa kurang lebih 100 pohon yang dipertahankan.

“Dari luasan 5.000 meter persegi yang ditanami 200 pohon, saya melakukan penjarangan tanaman, sehingga saat ini yang tersisa hanya sekitar 100 pohon,” ungkap Agus.

Kebun tersebut mampu menghasilkan panen secara berkala setiap minggu. Dalam sekali periode panen mingguan, hasilnya disebut berkisar satu hingga 1,5 kuintal.

Dengan harga jual sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, potensi penerimaan penjualan berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp3 juta apabila seluruh hasil panen terserap pada rentang harga tersebut. Agus sendiri mengaku memperoleh pendapatan penjualan sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per minggu.

Angka itu menunjukkan peluang ekonomi yang bisa dikembangkan dari lahan yang tidak terlalu luas. Namun, penerimaan penjualan tersebut belum dapat disamakan dengan keuntungan bersih karena masih ada biaya perawatan, pupuk, pengendalian hama, tenaga kerja, dan operasional lainnya.

Di balik hasil panen yang terus berjalan, Agus tetap mengandalkan perawatan rutin untuk menjaga produktivitas tanaman.

Penyiraman dilakukan sekitar dua hari sekali. Ia juga memangkas ranting dan melakukan penyemprotan pestisida kurang lebih satu bulan sekali.

Untuk pemupukan, Agus lebih banyak memanfaatkan bahan organik yang tersedia di sekitar kebun, seperti pupuk kandang dan serasah daun.

Cara tersebut menjadi salah satu upayanya menekan ketergantungan pada bahan dari luar sekaligus memanfaatkan potensi lingkungan sekitar.

Meski perawatannya dinilai relatif sederhana, budidaya jeruk nipis tetap membutuhkan perhatian terhadap kondisi tanah, cuaca, kebutuhan nutrisi, serta ancaman hama dan penyakit. Pengelolaan yang tepat menjadi faktor penting agar hasil panen tetap terjaga.

Hal yang menarik dari usaha Agus bukan hanya nilai penjualannya, melainkan kondisi pasar yang belum sepenuhnya bisa ia layani.

Menurut Agus, permintaan jeruk nipis pada setiap hari pasar Ngablak rata-rata mencapai lebih dari 20 kilogram. Sementara itu, kemampuan produksi kebunnya masih terbatas sehingga belum semua kebutuhan pembeli dapat dipenuhi.

“Per hari pasar Ngablak rata-rata meminta pasokan lebih dari 20 kilogram,” katanya.

Situasi tersebut menjadi peluang bagi petani lain di Desa Ngablak dan wilayah Kecamatan Cluwak yang ingin mengembangkan komoditas serupa.

Namun, tingginya permintaan di satu pasar tidak otomatis menjamin keuntungan bagi semua petani. Calon pembudidaya tetap perlu menghitung biaya produksi, waktu tanaman mulai berbuah, ketersediaan air, serta kestabilan harga sebelum memperluas penanaman.

Kepastian pembeli dan pola pemasaran juga menjadi pertimbangan penting agar hasil panen tidak menumpuk ketika produksi meningkat.

Agus berharap semakin banyak petani berani mencoba mengembangkan jeruk nipis sebagai usaha tambahan maupun sumber pendapatan alternatif keluarga.

Dukungan pemerintah desa terhadap budidaya yang ia jalankan diharapkan dapat mendorong pengembangan potensi pertanian lokal, termasuk membuka ruang bagi petani untuk belajar teknik budidaya dan memperluas akses pemasaran.

Kisah Agus memberikan gambaran bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus dimulai dengan perkebunan luas atau modal besar. Pemanfaatan lahan yang tersedia, keberanian mencoba komoditas baru, dan ketekunan merawat tanaman dapat membuka peluang ekonomi.

Di Desa Ngablak, jeruk nipis kini bukan sekadar tanaman alternatif di sela-sela kebun. Komoditas tersebut mulai menunjukkan potensi pasar yang layak diperhitungkan.

Tantangan berikutnya adalah menjaga produktivitas, memastikan keuntungan yang berkelanjutan, dan memperluas pasokan tanpa mengabaikan risiko usaha. Jika dikelola dengan perencanaan matang, jeruk nipis berpeluang menjadi salah satu pilihan pengembangan pertanian di Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati.

(Red.)