Portal Muria – 21 April 2026 | JAKARTA, 21 April 2026 – Sebuah perjalanan spiritual yang jarang terdengar kini menjadi sorotan publik setelah tiga penyandang tuli berhasil menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah. Mereka mengungkapkan betapa pengalaman tersebut membuka mata, hati, dan jiwa mereka akan identitas yang diciptakan Allah, sekaligus menegaskan pentingnya inklusivitas dalam pelaksanaan ritual keagamaan.
Ketiga peziarah, yakni Dewi (31), seorang pemilik toko di Malang yang telah menekuni pengajaran Al‑Qur’an isyarat selama lima tahun; Ahmad (45), pekerja migas asal Surabaya yang baru belajar bahasa isyarat pada usia 40 tahun; dan Siti (27), mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada yang kehilangan pendengaran sejak usia dua belas tahun, memutuskan menunaikan haji bersama rombongan khusus yang menyediakan fasilitas aksesibilitas lengkap. Selama persiapan, mereka menjalani pelatihan intensif mengenai tata cara ibadah, penggunaan alat bantu dengar, serta teknik komunikasi non‑verbal dengan pemandu yang berlisensi.
Di Mekkah, momen pertama yang paling mengesankan bagi mereka terjadi saat melakukan tawaf di sekitar Ka’bah. “Saat saya mengelilingi Ka’bah, saya tidak mendengar suara orang‑orang, melainkan merasakan getaran spiritual yang kuat. Saya melihat gestur‑gestur sahabat haji lain yang memberi isyarat ‘Alhamdulillah’, dan saya pun membalas dengan isyarat yang sama,” ujar Dewi dengan mata bersinar. Bagi Ahmad, menunaikan wukuf di Arafah menjadi titik balik. “Saya berdiri di antara ribuan jamaah, dan meski tidak dapat mendengar takbir, saya merasakan kebersamaan melalui tatapan dan gerakan tangan yang serempak. Itu mengingatkan saya bahwa iman tidak memerlukan suara, melainkan niat yang tulus,” katanya.
Siti menambahkan, pengalaman melontar jumrah (lemparan batu) di Mina menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi keikhlasan. “Saat melempar batu, saya melihat ekspresi kebahagiaan di wajah para sahabat haji lain yang menepuk pundak saya, memberi isyarat ‘Bagus’. Saya membalas dengan isyarat ‘Terima kasih’. Itu memberi saya keyakinan bahwa bahasa tubuh dapat menyatukan hati,” ungkapnya.
- Dewi: Mengajarkan Al‑Qur’an isyarat di sekolah agama setempat, menekankan pentingnya bahasa visual bagi tunarungu.
- Ahmad: Menjadi relawan di panti jompo khusus penyandang tuna rungu, mengorganisir program ibadah bersama.
- Siti: Meneliti dampak sosial inklusi pada komunitas Muslim tunarungu, dengan fokus pada kebijakan haji.
Ketiga peziarah menegaskan bahwa keberadaan fasilitas khusus, seperti penerjemah isyarat, papan petunjuk visual, dan ruang istirahat yang tenang, sangat krusial. “Jika tidak ada dukungan tersebut, kami mungkin tidak berani melangkah ke Tanah Suci. Pemerintah dan otoritas haji seharusnya menjadikan layanan ini standar bagi semua jamaah,” kata Dewi.
Pengalaman mereka juga menimbulkan diskusi luas di media sosial Indonesia, dengan ribuan netizen memberikan apresiasi dan menuntut peningkatan layanan inklusif di tempat ibadah lain. Beberapa ulama menyoroti bahwa Islam memang menekankan hak setiap manusia untuk beribadah tanpa diskriminasi, mengacu pada hadis yang menyatakan, “Tidak ada paksaan dalam agama.”
Di sisi lain, otoritas Kementerian Agama menanggapi dengan mengumumkan rencana penambahan program pelatihan bahasa isyarat bagi pemandu haji dan penambahan fasilitas visual di Masjidil Haram. “Kami berkomitmen menjadikan ibadah haji dapat diakses oleh semua, termasuk penyandang disabilitas, sesuai dengan prinsip keadilan dalam Islam,” kata juru bicara Kementerian Agama.
Dengan keberanian dan tekad yang kuat, ketiga penyandang tuli ini tidak hanya mewujudkan impian pribadi, tetapi juga membuka jalan bagi ribuan jamaah lain yang memiliki keterbatasan serupa. Mereka mengingatkan masyarakat bahwa identitas yang diciptakan Allah meliputi segala perbedaan, dan bahwa keberagaman dapat menjadi sumber kekuatan spiritual bila diberi ruang untuk berkembang.
Pengalaman mereka di Mekkah menjadi bukti nyata bahwa iman tidak terhalang oleh keterbatasan fisik, melainkan diperkaya oleh keberagaman cara berkomunikasi. “Saya diingatkan inilah diri saya yang Allah ciptakan,” tutup Ahmad, menutup babak penting dalam perjalanan rohaninya.










