Bos Rokok HS Umrahkan 150 Karyawan, Wujud Syukur Usai Lolos dari Kecelakaan Tragis

MAGELANGPortalMuria.com  – Suasana haru menyelimuti pabrik rokok HS di Muntilan, Magelang, Jumat (27/3). Di hadapan ribuan karyawannya, Muhammad Suryo menyampaikan kabar yang tak hanya mengejutkan, tetapi juga menggetarkan hati: sebanyak 150 karyawan akan diberangkatkan menunaikan ibadah umrah tahun ini.

Bagi Suryo, keputusan itu bukan sekadar program rutin perusahaan. Tahun ini, maknanya jauh lebih dalam—sebuah bentuk syukur karena dirinya masih diberi kesempatan hidup setelah kecelakaan maut yang nyaris merenggut segalanya.

Kecelakaan yang dialami Suryo terjadi di Kulon Progo pada Minggu (1/3). Dalam peristiwa tersebut, ia sempat berada dalam kondisi kritis dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Namun takdir berkata lain untuk sang istri, Anis Syarifah, yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Suryo mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para karyawan.

“Ini bentuk syukur saya dan rasa terima kasih atas doa panjenengan semua. Kalian yang membuat saya kuat menghadapi cobaan ini,” ujarnya.

Ia juga meminta doa agar almarhumah istrinya mendapatkan tempat terbaik.

Program pemberangkatan umrah bagi karyawan sebenarnya bukan hal baru di perusahaan tersebut. Namun tahun ini, jumlahnya meningkat signifikan.

Jika sebelumnya hanya puluhan orang, kini 150 karyawan mendapat kesempatan ke Tanah Suci, angka terbesar sepanjang program ini berjalan.
Langkah ini sekaligus menjadi simbol kebangkitan Suryo setelah melewati fase tergelap dalam hidupnya.

Tak hanya soal umrah, Suryo juga menegaskan komitmennya terhadap inklusivitas di lingkungan kerja. Ia mengumumkan penyediaan fasilitas mess khusus bagi karyawan disabilitas.

Saat ini, tercatat 21 penyandang disabilitas bekerja di pabrik rokok HS, banyak di antaranya berasal dari luar daerah seperti Temanggung dan Magelang.

“Kami akan terus menerima karyawan disabilitas dari mana pun, tanpa syarat,” tegasnya.

Langkah ini dinilai sebagai upaya nyata membuka akses kerja yang lebih luas bagi kelompok yang kerap terpinggirkan.

Kehadiran kembali Suryo di tengah karyawan disambut penuh emosi. Tangis pecah, terutama dari para pekerja yang selama ini mengikuti kabar kondisinya.
Sundari (63), salah satu karyawan, mengaku sempat lemas saat mendengar kabar kecelakaan tersebut.

“Kami semua khawatir. Apalagi saat tahu Bu Anis meninggal dan Pak Suryo kritis. Hari ini kami hanya bisa bersyukur beliau sudah sehat,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Tika (35), karyawan disabilitas asal Temanggung. Ia menyebut Suryo sebagai sosok yang telah membuka jalan hidup bagi banyak orang.

Di balik kebahagiaan itu, terselip harapan besar dari para karyawan. Mereka ingin perusahaan terus berkembang, sekaligus tetap menjadi tempat yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.

Tenyria Swastika (35), karyawan disabilitas lainnya, berharap lebih banyak rekan senasib bisa mendapatkan kesempatan yang sama.

“Semoga semakin banyak kawan disabilitas yang bisa bergabung. Terima kasih atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan,” ujarnya.

(Red.)