Takbir Keliling di Pati Kehilangan Arah, Saatnya Kembali ke Jalan yang Benar

Berita, Pati914 Dilihat

Antara Syiar atau Sekadar Pesta Jalanan?

Oleh: Redaksi

Di Pati, malam takbiran seharusnya menjadi puncak spiritual umat Islam. Malam yang dipenuhi gema takbir, rasa syukur, dan harapan akan kembali kepada fitrah. Namun belakangan ini, ada kegelisahan yang tak bisa lagi disembunyikan.

Takbir keliling, yang dahulu menjadi simbol syiar dan kebersamaan, kini perlahan berubah menjadi panggung hiburan. Bahkan, dalam banyak kasus, lebih menyerupai pesta jalanan ketimbang ritual keagamaan.

Fenomena sound horeg menjadi titik balik yang paling mencolok. Dentuman musik keras menggantikan suara takbir. Jalanan yang seharusnya dipenuhi kalimat “Allahu Akbar”, justru dipenuhi irama DJ yang memekakkan telinga.
Pertanyaannya sederhana: masihkah ini disebut takbir keliling?

Lebih ironis lagi, suasana tersebut kerap diiringi perilaku yang jauh dari nilai religius. Joget massal, konsumsi minuman keras, hingga aksi-aksi yang mengundang keresahan publik menjadi pemandangan yang dianggap “biasa”.
Ketika hal ini terus dibiarkan, maka yang hilang bukan sekadar tradisi, melainkan makna.

Takbir keliling sejatinya bukan sekadar arak-arakan. Ia adalah syiar. Ia adalah pengingat. Ia adalah ekspresi kolektif umat dalam mengagungkan nama Allah.
Namun kini, esensi itu tergerus oleh euforia yang salah arah.

Kemunculan atribut-atribut yang tidak relevan, seperti patung atau ornamen yang tidak memiliki kaitan dengan nilai Islam, semakin memperjelas bahwa tradisi ini sedang kehilangan ruhnya. Tak lagi berakar pada nilai, melainkan pada sensasi.

Ada sisi lain yang sering luput dari perhatian: dampak sosial.Di balik kemeriahan itu, ada warga yang terganggu. Lansia yang tak bisa beristirahat. Bayi yang terkejut oleh suara keras. Orang sakit yang terpaksa menahan bising di tengah kondisi lemah.

Apakah euforia sebagian orang layak dibayar dengan ketidaknyamanan banyak orang?
Ini bukan sekadar soal selera atau hiburan. Ini soal empati.

Kondisi ini tidak bisa lagi dianggap wajar. Jika terus dibiarkan, maka penyimpangan akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan dianggap sebagai budaya baru.

Padahal jelas, ini bukan budaya yang diwariskan.
Diperlukan keberanian untuk mengambil sikap:

  • Melarang penggunaan sound system berlebihan
  • Mengembalikan takbir sebagai inti kegiatan
  • Menyaring bentuk dan atribut pawai
  • Menegakkan aturan tanpa kompromi

Bukan untuk membatasi kreativitas, tetapi untuk menjaga kesucian.

Perlu ditegaskan, ini bukan ajakan untuk menghapus takbir keliling. Justru sebaliknya, ini adalah seruan untuk menyelamatkannya.

Karena jika tidak dijaga, yang tersisa hanyalah keramaian tanpa arah. Tradisi tanpa makna. Dan syiar yang kehilangan suara.

Di Pati, kita masih punya pilihan: membiarkan takbir keliling terus melenceng, atau bersama-sama mengembalikannya ke jalan yang benar.
Pilihan itu ada di tangan kita.

تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال

Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua, dan mengembalikan kita dalam keadaan suci. Mohon maaf lahir dan batin.