JEPARA, PortalMuria.com – Situasi keamanan di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, berubah mencekam hingga Jumat (6/3/2026) dini hari. Kericuhan yang awalnya dipicu aksi vandalisme oknum suporter tamu berubah menjadi gelombang amuk massa yang meluas ke sejumlah titik strategis kota.
Laga panas Derby Jawa Tengah antara Persijap Jepara dan Persis Solo yang berakhir imbang tanpa gol justru meninggalkan jejak kerusuhan. Ketegangan yang terjadi di dalam stadion merembet keluar arena dan menyeret ribuan suporter ke jalanan.
Kericuhan mulai terjadi menjelang akhir pertandingan. Di dalam stadion, sejumlah suporter terlibat aksi saling lempar berbagai benda.
Botol plastik, batu, bata, hingga petasan beterbangan di tribun penonton.
Dalam rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial, tampak beberapa oknum suporter tamu mencabut kursi di tribun VIP stadion.
Kapolres Jepara, Hadi Kristanto, mengungkapkan bahwa tindakan tersebut memicu kemarahan suporter tuan rumah.
“Dari suporter Solo ada yang mencabut kursi. Ada beberapa kursi yang dilempar ke arah suporter Persijap,” ungkapnya saat konferensi pers di Gedung Setda Jepara, Jumat (6/3/2026) pukul 03.30 WIB.
Aksi vandalisme di stadion dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap warga Bumi Kartini. Hal itu memicu kemarahan suporter Persijap yang dikenal sebagai pendukung Laskar Kalinyamat.
Gelombang massa kemudian bergerak keluar stadion dan mengejar jalur pelarian suporter tamu.
Ketegangan paling terasa di kawasan Terminal Jepara dan jalur keluar kota. Massa yang tersulut emosi melakukan perusakan terhadap sejumlah kendaraan yang diduga milik suporter tamu.
Beberapa video yang beredar memperlihatkan mobil digulingkan oleh massa. Kaca kendaraan pecah berserakan, bahkan ada kendaraan yang terbalik setelah dikepung ratusan orang.

Situasi juga memanas di kawasan Alun-alun 2 Jepara. Lokasi yang biasanya menjadi ruang santai warga berubah menjadi titik berkumpul ribuan suporter Persijap.
Di lokasi tersebut massa melakukan penyisiran kendaraan yang hendak meninggalkan kota.
Mereka berupaya memastikan tidak ada oknum yang dianggap merusak fasilitas stadion bisa keluar dari wilayah Jepara tanpa konsekuensi.
“Kami bukan bangsa penakut. Kalian bertamu dengan cara kasar, maka jangan harap bisa pulang dengan tenang. Ini peringatan bagi siapa pun yang tidak sopan di rumah kami,” ujar seorang suporter dalam rekaman video yang beredar di media sosial.
Eskalasi massa terbesar terjadi di kawasan Bangjo Gotri. Persimpangan ini merupakan jalur utama penghubung Jepara menuju Kudus dan Semarang.
Ribuan orang memadati simpang tersebut hingga membuat arus lalu lintas lumpuh total.
Penumpukan massa membuat aparat kepolisian harus bekerja ekstra keras untuk mengurai kerumunan dan mencegah bentrokan yang lebih luas.
Sejumlah titik yang menjadi pusat kericuhan antara lain, Stadion Gelora Bumi Kartini, Alun-alun 2 Jepara, Terminal Jepara, Bangjo Gotri.
Aksi massa dilaporkan meliputi penggulingan kendaraan, perusakan mobil yang diduga milik suporter tamu, hingga blokade jalan utama.
Akses keluar Jepara melalui jalur Gotri mengalami kemacetan panjang akibat penumpukan massa dan kendaraan.
Aparat keamanan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari lokasi yang menjadi titik kerumunan suporter.
Pengendara dari luar kota juga disarankan tidak melintasi jalur utama Jepara untuk sementara waktu hingga situasi benar-benar kondusif.
Hingga dini hari, aparat keamanan masih berjaga di sejumlah titik untuk memastikan eskalasi kerusuhan tidak meluas lebih jauh.
(Red.)










