JEPARA, PortalMuria.com — Jejak perjuangan perempuan Jepara kembali menguat dan menggigit. Melalui Seminar Kebangsaan dan Bedah Buku “Roekmini Kisah yang Terlupakan”, publik akhirnya menoleh pada sosok yang selama puluhan tahun hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah: Roekmini, adik RA Kartini yang sesungguhnya menyimpan rekam jejak besar dalam pendidikan perempuan.
Kegiatan ini digelar di Museum RA Kartini, eks Pendopo atau rumah dinas Bupati Jepara, Sabtu (29/11).
Tokoh-tokoh nasional hadir: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, sejarawan Dr. Peter Carey, pendiri Tulisan Melissa Sunjaya, dan Dekan FIB Undip Prof. Dr. Alamsyah. Forum ini bukan sekadar diskusi—ia menjadi panggung untuk membalik narasi sejarah yang lama dibiarkan kabur.
Bupati Jepara Witiarso menegaskan bahwa forum ini adalah langkah strategis mengembalikan memori kolektif masyarakat tentang peran besar perempuan Jepara.
“Ini hari yang istimewa. Kita menandai langkah penting pembacaan ulang sejarah melalui seminar dan bedah buku Roekmini Kisah yang Terlupakan,” ujar Witiarso.
Menurutnya, Roekmini bukan sekadar pengiring Kartini. Ia pembangun institusi pendidikan perempuan, penggerak jaringan sosial lintas kalangan, serta aktor penting dalam dunia organisasi pendidikan.
“Kartini menyalakan api, Roekmini menjaga nyalanya tetap hidup,” tegas Bupati.
“Kini kita melihat Roekmini bukan hanya sebagai adik Kartini, tetapi sebagai tokoh yang membangun institusi dan praktik pendidikan.”

Pemkab Jepara, kata Witiarso, berkomitmen menjadikan Museum Kartini sebagai pusat studi perempuan Indonesia, agar nilai perjuangan para perempuan Jepara terus menginspirasi generasi masa kini.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengungkap bahwa seminar ini berawal dari diskusinya dengan Bupati Jepara mengenai revitalisasi Museum Kartini. Museum, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai ruang benda-benda lama.
“Saya menemukan buku tentang Roekmini dan mendiskusikannya dengan Pak Bupati. Dari situ muncul gagasan menghadirkan penulis dan para ahli dalam forum publik,” jelas Lestari.
Ia menyebut sosok Roekmini selama ini hanya hidup sebagai nama jalan, bukan sebagai pemikir penting dalam gerakan perempuan Indonesia.
“Terima kasih kepada pemerintah daerah yang memberi ruang bagi ekspresi pemikiran tentang perjuangan perempuan,” pungkasnya.
Pihak penyelenggara berharap seminar ini menjadi pintu pembuka rangkaian kegiatan yang lebih besar: riset, forum diskusi, dan literasi sejarah perempuan Jepara.
Harapannya, nilai perjuangan Kartini dan Roekmini tidak lagi sebatas upacara tahunan, melainkan wacana hidup yang relevan sepanjang zaman.
Seminar ini menegaskan satu hal: Jepara bukan hanya melahirkan Kartini, tetapi juga perempuan-perempuan lain yang dedikasinya terhapus waktu.
Kini, Roekmini kembali berdiri, bukan sebagai bayang, tetapi sebagai tokoh yang pantas menempati panggung sejarah bangsa.
(Red.)














