Warga Murka: Oknum Mengatasnamakan Rakyat untuk Gagalkan Aksi 13 Agustus, Ternyata Klaim “Pesta Rakyat”

Pati1046 Dilihat

PATI, PortalMuria.com – Gejolak kemarahan publik tak terbendung. Warga netizen menumpahkan kekesalan setelah muncul manuver licik oknum yang mengatasnamakan rakyat untuk membatalkan aksi demo besar pada 13 Agustus 2025. Ironisnya, dalam undangan yang digelar Bupati Sudewo, pada hari Jumat (8/8/2025), oknum tersebut dengan santai mengklaim bahwa tanggal tersebut bukan aksi demo, melainkan “pesta rakyat”.

Kenyataannya, gelombang massa tetap bersiap turun ke jalan. Tuntutannya jelas: batalkan semua proyek tidak bermoral dan tanpa urgensi. Proyek-proyek yang digadang-gadang bernilai miliaran rupiah itu dinilai hanya akan menjadi ladang basah bagi praktik korupsi, sementara rakyat Pati sendiri tengah berjibaku memenuhi kebutuhan hidup di tengah lesunya ekonomi daerah.

Masyarakat mempertanyakan: apakah pejabat yang mengusulkan proyek rawan korupsi bisa dipercaya tidak menilep uang proyek? Pertanyaan ini makin membakar kecurigaan publik terhadap arah kebijakan pemerintah daerah.

Suara dari warganet pun membanjiri media sosial. Akun @Abu Ibrahim dengan tajam menulis:

“Sebelum e aku minta maaf kalau nanti ngong/ngetik sok pinter… Setiap pemimpin daerah apalagi bupati, aku yakin pasti pingin selalu ada proyek. Kenapa? Karena setiap ada proyek pasti akan terima tender… selanjutnya, kita bisa mikir sendiri.”

Sementara akun @Zaenuri menyerukan langkah lebih jauh:

“Tetep gas mas… suruh riyoso mundur sama bupati, terus camat-camat yang merangkap jabatan juga. Pantesan Pati rusak, ternyata satu kelompok yang menguasai anggaran.”

Tak kalah tegas, akun @Wahyu Setyawan menegaskan:

“Gas lanjut, lengserkan sekda dan bupati Pati!”

Dari lapangan, sumber internal mengungkap bahwa “pesta rakyat” yang digembar-gemborkan itu dinilai hanya kedok untuk meredam aksi besar-besaran. Namun, bukannya surut, gelombang kemarahan justru membesar, menguatkan tekad warga untuk mengawal aksi 13 Agustus hingga target politiknya tercapai.

Aroma permainan anggaran, indikasi proyek titipan, dan dugaan kongkalikong tender kini jadi sorotan tajam. Publik Pati tampaknya sudah tidak mau lagi hanya jadi penonton — kali ini, mereka memilih berdiri di garis depan.(Red.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *