Agus Mujayanto Temui Sri Eko Sriyanto Galgendu, Guru Spiritual Jokowi, Bahas Joyo Binangun Bangsa

Berita, Nasional199 Dilihat

JAKARTAPortalMuria.com – Agus Mujayanto melakukan silaturahmi dengan Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, pada Rabu (15/7/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai nilai-nilai spiritual, budaya, kepemimpinan, hingga filosofi Jawa yang dinilai masih relevan sebagai pijakan dalam membangun kehidupan berbangsa.

Dalam pertemuan itu, Sri Eko Sriyanto Galgendu menyampaikan pandangannya bahwa Indonesia tengah memasuki “musim spiritual” pada awal tahun 2026, menjadi salah satu penanda kuatnya semangat kebersamaan masyarakat di tengah dinamika dan tantangan global.

Diskusi juga menyinggung sosok Joyo Pengrawit, yang dikenal dalam sejarah Mangkunegaran sebagai panglima strategi perang sekaligus pengatur strategi tempur. Dalam pemaknaannya, Joyo Pengrawit disebut tidak hanya berkaitan dengan kemiliteran, tetapi juga mengandung filosofi pengaturan, harmoni, dan keteraturan yang dianalogikan melalui gamelan sebagai simbol keseimbangan.

Selain itu, dibahas pula filosofi perjalanan spiritual Sunan Kalijaga saat berguru kepada Sunan Bonang. Filosofi “Jogo Kali” dimaknai sebagai kemampuan menjaga keseimbangan antara hulu dan hilir kehidupan, yang dianalogikan sebagai kemampuan menyatukan berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, ekonomi, negara, dan agama dalam satu tatanan yang harmonis.

Dalam kesempatan tersebut, Agus Mujayanto menyampaikan bahwa silaturahmi tersebut merupakan pertemuan kembali dengan sahabat lamanya setelah terakhir bertemu pada tahun 2011 di Astana Utara Mangkunegaran VI, Surakarta.

“Silaturahmi saya kepada sahabat lama yang dulu kami bertemu pada tahun 2011 di Astana Utara Mangkunegaran VI Surakarta. Kini kami kembali bertemu dengan satu misi yang sama, yakni menjaga keselarasan agama dan budaya untuk membangun bangsa demi generasi yang akan datang,” ujar Agus Mujayanto.

Agus menjelaskan bahwa pembahasan dalam pertemuan tersebut banyak mengupas filosofi Sunan Kalijaga yang bersemedi di tepi sungai sebagai simbol keseimbangan kehidupan.

Agus Mujayanto (kiri) berfoto bersama Sri Eko Sriyanto Galgendu (tengah), yang dikenal sebagai tokoh spiritual Nusantara, dalam agenda silaturahmi yang berlangsung pada Rabu (15/7/2026).

“Sungai mengajarkan bagaimana menyatukan hulu dan hilir. Kita belajar kapan air pasang, kapan surut, bagaimana bendungan mengatur debit air, serta bagaimana menjaga tanggul kanan dan kiri. Di dalamnya terdapat kehidupan, ekosistem, ikan, hingga biota yang harus dijaga. Filosofi ini mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya melepaskan sifat keduniawian untuk membangun kejayaan bangsa.

“Kudu iso nglenggono kanggo ngilangke kadonyan. Kita harus mempersiapkan kejayaan bangsa dan kejayaan generasi mendatang. Filosofi ‘urip sakdurunge mati lan mati sakdurunge urip’ mengajarkan manusia agar memiliki kesadaran hidup yang lebih dalam,” tambahnya.

Dalam dialog tersebut juga dibahas mengenai posisi kepemimpinan spiritual dan kepemimpinan negara yang menurut para peserta diskusi memiliki peran masing-masing dalam kehidupan masyarakat.

Di dalam pertemuan ini, Sri Eko Sriyanto Galgendu yang juga dikenal sebagai guru spiritual mantan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi), turut menguraikan pemaknaan filosofi Sabdo Palon Noyo Genggong, yang dijelaskan sebagai simbol ucapan agung yang memiliki landasan kuat, lahir dari jiwa dan hati yang hidup serta memiliki nilai kelanggengan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya hadirnya sosok pemimpin yang memiliki jiwa kesatria, berani mengambil tanggung jawab di depan, sekaligus memiliki rasa malu sebagai bentuk pengendalian diri dalam menjalankan amanah kepemimpinan.

Pertemuan tersebut juga diakhiri dengan doa dan simbolisasi suwuk, yang dimaknai sebagai bentuk penguatan batin, pemahaman, serta dorongan spiritual agar setiap langkah kehidupan diarahkan menuju kebaikan dan kemaslahatan bersama.

(Red.)

Catatan Redaksi: Sejumlah pembahasan dalam pertemuan ini memuat tafsir, filosofi, dan pandangan spiritual yang merupakan pendapat narasumber. Isi tersebut disampaikan sebagai bagian dari pemberitaan atas pernyataan mereka dan bukan sebagai fakta yang dapat diverifikasi secara ilmiah.