Skandal Kekerasan di EPA U-20: Pelatih Kiper Bhayangkara FC Ferdiansyah Disorot Firman Utina

Olahraga19 Dilihat

Portal Muria – 21 April 2026 | Pertandingan lanjutan Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara FC dan Dewa United pada Minggu, 19 April 2026 di Stadion Citarum, Semarang, berakhir dengan kemenangan tipis Dewa United 2-1. Namun hasil akhir tidak menjadi satu-satunya sorotan. Sejumlah insiden fisik yang melibatkan pemain, staf, dan bahkan pelatih kiper Bhayangkara FC U-20, Fer Ferdiansyah, memicu kemarahan publik dan menimbulkan pertanyaan serius tentang disiplin di level akademi sepak bola.

Keributan dimulai sesaat setelah peluit akhir dibunyikan. Kedua tim bersaing sengit sepanjang 90 menit, dengan gol penentu tercipta pada menit-menit akhir melalui serangan balik Dewa United. Ketegangan yang sudah memuncak di lapangan berpindah ke pinggir lapangan ketika pemain Bhayangkara FC U-20, 17‑tahun Fadly Alberto, melepaskan tendangan keras (sering disebut “tendangan kungfu”) ke arah pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis. Tendangan tersebut menabrak bahu Rakha dan menyebabkan dislokasi pada sendi bahu serta memar pada wajahnya.

Serangan Fadly memicu balasan dari pihak Dewa United, yang kemudian melibatkan beberapa pemain lain seperti Ahmad Catur Prasetyo dan Aqilah Lissunah. Di tengah kerusuhan, sejumlah anggota staf kepelatihan beralih ke area konflik. Salah satu yang paling menonjol dalam foto‑foto yang beredar di media sosial adalah Ferdiansyah, mantan kiper Persipura Jayapura yang kini menjabat sebagai pelatih kiper Bhayangkara FC U-20. Ferdiansyah tampak terlibat dalam perkelahian di bangku cadangan Dewa United, beradu fisik dengan staf pelatih lawan.

Reaksi paling keras datang dari Firman Utina, mantan gelandang Timnas Indonesia dan Direktur Akademi Dewa United. Melalui akun Instagram pribadinya @firmanutina1515, Utina mengunggah serangkaian foto yang memperlihatkan Ferdiansyah dalam aksi fisik tersebut, disertai komentar tajam: “Kamu itu pelatih, bukan preman, makanya kursus jangan tidur supaya belajar sama-sama. Ini bukan zaman lo main, nanti kita bakal ketemu ya coach.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Utina menilai perilaku Ferdiansyah tidak pantas bagi seorang pelatih, apalagi seorang yang seharusnya menjadi contoh bagi generasi muda.

Selain sindiran, Firman Utina juga menyampaikan dukungan kepada korban. Ia menulis, “Terima kasih atas perjuangan luar biasa, anak‑anak hebat. Kalian bermain dengan penuh kesabaran, kerja keras, dan hati. Lekas pulih Rakha. Kami semua menunggu kamu kembali lebih kuat,” menegaskan kepedulian terhadap kesejahteraan pemain muda yang terjangkit cedera akibat aksi kekerasan.

Insiden ini bukan pertama kalinya nama Ferdiansyah muncul dalam sorotan negatif. Sebelumnya, pada bulan April yang sama, Utina sempat menyindir Ferdiansyah di postingan Instagram lain karena diduga “baku pukul” seorang pemain Dewa United U‑20. Meskipun konteksnya berbeda, pola kritik yang konsisten mengindikasikan adanya ketegangan yang berkembang antara kedua akademi sejak awal kompetisi.

Para pengamat sepak bola menilai bahwa kejadian ini mencerminkan tantangan yang dihadapi EPA U‑20 dalam menegakkan disiplin dan sportivitas di antara pemain muda. Mereka menekankan pentingnya edukasi nilai‑nilai fair play, terutama bagi pelatih yang menjadi panutan utama. Sebuah pernyataan resmi dari Komite Disiplin PSSI belum keluar pada saat penulisan, namun sumber internal menegaskan bahwa proses investigasi telah dimulai, dengan kemungkinan sanksi bagi pihak‑pihak yang terbukti melanggar kode etik.

Dari sudut pandang hukum, insiden ini dapat masuk dalam kategori pelanggaran Hukum & Kriminal dalam olahraga, yang mencakup tindakan kekerasan fisik di luar aturan permainan. Sementara itu, konsekuensi sportif dapat meliputi skorsing, denda, atau bahkan pencabutan lisensi pelatih jika terbukti ada unsur provokasi atau agresi yang disengaja.

Ke depan, harapan utama tetap pada pemulihan Rakha Nurkholis dan upaya pencegahan kejadian serupa. Dewa United melalui akun resmi @dufc.development telah menyampaikan doa kesembuhan dan menekankan pentingnya contoh perilaku yang baik di lapangan. Sementara itu, Bhayangkara FC U‑20 dijadwalkan mengadakan rapat internal untuk mengevaluasi prosedur keamanan tim dan meninjau peran staf kepelatihan dalam mengendalikan emosi pasca pertandingan.

Kasus Ferdiansyah dan Firman Utina menegaskan bahwa masalah kekerasan dalam sepak bola tidak hanya melibatkan pemain, melainkan juga staf teknis. Penanganan yang tegas dan edukatif diperlukan agar generasi muda dapat menikmati kompetisi tanpa ancaman fisik, sekaligus menegakkan standar profesionalisme yang tinggi di semua tingkatan kompetisi.