Ledakan Maut Tambakrejo Semarang: Fakta Baru Labfor, Bahan Low Explosive Diduga Dirakit di Kamar

Berita, Nasional625 Dilihat

SEMARANGPortalMuria.com – Pengusutan kasus ledakan maut di Kampung Tambakrejo, Kota Semarang, terus mengungkap fakta baru yang mencengangkan. Tim dari Polda Jawa Tengah melalui Laboratorium Forensik (Labfor) turun langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Jumat (20/3).

Hasil sementara menunjukkan, sumber ledakan diduga berasal dari dalam salah satu kamar rumah warga berinisial R, bukan dari luar seperti yang sempat diduga.

Kasubdit Fisika dan Komputer Forensik Bidang Labfor Polda Jateng, Totok Tri Kusuma, mengungkapkan adanya temuan penting di lokasi.

“Di kamar tersebut ditemukan kubah ledakan dengan diameter sekitar 25 hingga 30 sentimeter,” ujarnya.

Temuan ini menjadi indikator kuat titik pusat ledakan. Ukuran kubah tersebut juga memberi gambaran tentang daya ledak yang cukup besar, meski berasal dari kategori bahan peledak ringan.

Dalam proses olah TKP, petugas tidak menemukan petasan dalam kondisi utuh. Yang tersisa hanyalah serpihan material pascaledakan yang kini masih diteliti lebih lanjut di laboratorium.

“Kami hanya menemukan sisa-sisa ledakan. Untuk jenisnya masih akan kami teliti lebih lanjut,” kata Totok.
Menariknya, sejumlah kembang api yang ditemukan di lokasi disebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sumber ledakan utama.

Labfor memastikan bahan yang meledak termasuk dalam kategori low explosive. Meski demikian, daya rusaknya tetap signifikan.

Berdasarkan analisis ukuran kubah ledakan, diperkirakan bahan baku yang meledak memiliki berat sekitar 1 hingga 2 kilogram, sehingga cukup untuk menyebabkan kerusakan serius di dalam ruangan tertutup.

Dugaan sementara, ledakan terjadi saat bahan petasan tengah dirakit di dalam kamar. Kondisi bahan kimia yang telah dicampur dinilai sangat tidak stabil dan berisiko tinggi.

“Bahan kimia yang sudah digabung menjadi tidak stabil. Ledakan bisa dipicu gesekan atau panas,” jelas Totok.
Situasi ini memperkuat dugaan bahwa ledakan bukan akibat benda jadi, melainkan dari proses peracikan yang gagal.

Seperti diberitakan sebelumnya, ledakan yang terjadi pada Jumat dini hari itu merenggut nyawa seorang anak berinisial GSP (9). Tragedi ini menjadi pukulan keras bagi warga sekitar sekaligus peringatan serius.

Peristiwa di Tambakrejo kembali menegaskan bahaya laten dari aktivitas merakit dan menyimpan bahan petasan di lingkungan permukiman padat penduduk.

Kasus ini membuka kembali diskursus lama: tradisi petasan yang kerap dianggap sepele, namun menyimpan potensi bencana mematikan. Apalagi jika proses perakitan dilakukan tanpa standar keamanan.

Ledakan di Tambakrejo bukan sekadar insiden, melainkan sinyal darurat bahwa pengawasan dan edukasi masyarakat soal bahan peledak harus diperketat, sebelum korban berikutnya kembali berjatuhan.

(Red.)