11 Siswa SD Negeri 1 Pulodarat Keracunan Mi Goreng Asongan, Dilarikan ke Puskesmas

Berita, Jepara1253 Dilihat

JEPARAPortalMuria.com | Suasana pagi di SD Negeri 1 Pulodarat, Kecamatan Pecangaan, mendadak berubah mencekam. Kamis (8/1/2026), sebanyak 11 siswa sekolah dasar harus dilarikan ke puskesmas setelah mengalami mual, pusing, sakit perut, hingga muntah massal. Dugaan kuat, insiden tersebut dipicu jajanan asongan berupa mi goreng yang mereka konsumsi sebelum pelajaran dimulai.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.30 WIB, saat aktivitas belajar mengajar belum berlangsung. Berdasarkan penelusuran di lokasi, sedikitnya 17 siswa membeli mi goreng dari pedagang keliling yang masuk ke lingkungan sekolah. Makanan tersebut dibungkus styrofoam dan langsung disantap anak-anak.

Tak lama setelah bel masuk berbunyi, kondisi siswa mulai menunjukkan tanda-tanda tak biasa. Satu per satu anak mengeluh mual, pusing, hingga muntah di dalam kelas. Kepanikan pun tak terhindarkan.
Kepala SD Negeri 1 Pulodarat, Ikwan, S.Pd, membenarkan kejadian tersebut saat dikonfirmasi awak media.

“Anak-anak jajan sebelum pelajaran, sekitar jam tujuh kurang. Ada kakek-kakek penjual asongan keliling yang masuk ke halaman sekolah. Sekitar 17 anak membeli mi goreng yang dibungkus styrofoam,” ungkapnya.

Menurut Ikwan, gejala keracunan mulai tampak tepat saat kegiatan belajar dimulai.

“Begitu pelajaran dimulai, anak-anak mulai mual, pusing, dan muntah satu per satu. Kami langsung membawa mereka ke puskesmas terdekat,” jelasnya.

Ikwan tak menampik, keberadaan pedagang asongan di sekolah tersebut sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

“Penjual asongan itu setiap hari keliling dan masuk ke sekolah. Karena belum ada kantin sekolah, anak-anak biasanya jajan di luar atau saat ada pedagang lewat,” tambahnya.

Kondisi ini membuat siswa rentan mengonsumsi jajanan yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya.

Pihak Puskesmas Pecangaan membenarkan adanya kejadian dugaan keracunan makanan tersebut. Dokter Eva, dokter jaga yang menangani para siswa, menyampaikan bahwa total 11 anak mendapatkan perawatan medis.

“Benar, ada 11 anak yang kami tangani akibat dugaan keracunan makanan. Saat ini kondisi mereka sudah membaik, 10 anak sudah diperbolehkan pulang, dan satu anak masih dalam pemantauan,” terang Dokter Eva.

Ia menambahkan, para siswa telah mendapatkan penanganan sesuai prosedur medis, mulai dari pemeriksaan kondisi umum hingga pemberian obat untuk meredakan gejala keracunan.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Mulai dari sekolah, orang tua, hingga instansi terkait, diminta lebih serius mengawasi konsumsi jajanan anak-anak.

Kasus ini juga kembali menyoroti minimnya fasilitas kantin sehat di sekolah dasar, yang membuat siswa bergantung pada jajanan asongan tanpa pengawasan.

Pihak sekolah menyatakan akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menertibkan pedagang keliling, sekaligus mencari solusi penyediaan kantin sekolah. Sementara itu, orang tua berharap ada langkah nyata agar insiden serupa tidak kembali terulang.

(Red.)