Pati, Portalmuria.com – Di Pendopo Kabupaten Pati, ratusan siswa tersenyum bahagia saat menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), Minggu (21/6/2026). Pemerintah Kabupaten Pati bahkan menegaskan komitmennya memperluas akses pendidikan dengan menargetkan kuota penerima PIP meningkat menjadi 1.000 siswa pada tahun depan.
Namun di balik seremoni tersebut, muncul ironi yang menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Di saat bantuan pendidikan untuk ratusan siswa berhasil disalurkan dan bahkan direncanakan ditambah, beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu di Kabupaten Pati justru masih menggantung tanpa kepastian setelah mandek selama tiga bulan.
Program beasiswa yang selama ini menjadi tumpuan mahasiswa dari keluarga kurang mampu itu belum juga diterima sejak April 2026. Padahal bantuan tersebut menjadi penopang biaya kuliah, biaya hidup, hingga kebutuhan akademik para penerima manfaat.
Dalam kegiatan penyaluran PIP yang dihadiri Anggota DPR RI Eva Monalisa, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pati Ahmad Syaiku, jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta pihak perbankan, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu sektor prioritas pembangunan daerah.
“Terima kasih kepada Ibu Eva Monalisa yang terus mendukung penyaluran Program Indonesia Pintar di Kabupaten Pati. Bantuan ini sangat penting untuk membantu keberlangsungan pendidikan anak-anak kita,” ujar Chandra.
Ia bahkan menyampaikan rencana peningkatan kuota penerima PIP menjadi 1.000 siswa pada tahun mendatang.
“Kita ingin anak-anak Pati memiliki bekal ilmu pengetahuan, mampu menguasai teknologi, tetapi tetap memiliki fondasi akhlak yang baik. Itulah modal utama untuk menghadapi masa depan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sejatinya mendapat apresiasi. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai nasib mahasiswa kurang mampu yang hingga kini masih menunggu pencairan beasiswa daerah.
Pasalnya, jika pendidikan memang menjadi prioritas utama pemerintah, mengapa bantuan yang diperuntukkan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu justru belum juga menemukan titik terang?
Sejumlah orang tua mahasiswa penerima manfaat mengaku hingga kini belum memperoleh kepastian kapan bantuan tersebut akan diterima. Bahkan, 10 perwakilan orang tua dari berbagai kecamatan telah meminta pendampingan hukum dan berencana melakukan audiensi dengan Plt Bupati Pati untuk mencari kejelasan.
Direktur LBH Djoeang Pati, Fatkhurrahman, menilai persoalan tersebut perlu segera diselesaikan karena menyangkut masa depan generasi muda. Menurutnya, bantuan pendidikan tidak boleh berhenti pada seremoni dan komitmen semata, tetapi harus benar-benar dirasakan oleh seluruh kelompok penerima manfaat, termasuk mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
“Ketika pemerintah berbicara tentang prioritas pendidikan, maka seluruh rantai pendidikan harus diperhatikan. Jangan sampai siswa mendapat perhatian, tetapi mahasiswa yang juga membutuhkan bantuan justru menunggu tanpa kepastian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Narji, memastikan proses pencairan beasiswa masih berjalan. “Sudah ditandatangani Pak Plt Bupati, surat sudah masuk ke penyedia, tinggal menunggu proses,” tulis Narji saat dikonfirmasi.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum menjawab pertanyaan utama yang berkembang di tengah masyarakat, yakni mengapa proses tersebut membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan tanpa kepastian pencairan.
Kini, di tengah euforia penyaluran Program Indonesia Pintar dan rencana penambahan kuota penerima bantuan pendidikan, ratusan mahasiswa kurang mampu di Kabupaten Pati masih menunggu kabar yang sama: kapan beasiswa yang dijanjikan benar-benar masuk ke rekening mereka.
Karena bagi mereka, pendidikan bukan hanya soal pidato dan komitmen. Pendidikan adalah biaya kuliah yang harus dibayar, kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, dan masa depan yang tidak bisa terus-menerus menunggu.














