Pilih Menahan Lapar, Kena Tipes dan Hampir Putus Kuliah, Kisah Pilu Penerima Beasiswa Pati yang Mandek 3 Bulan

Berita, JAWA TENGAH, Pati122 Dilihat

PATI, PortalMuria.com Mandeknya pencairan beasiswa mahasiswa kurang mampu di Kabupaten Pati selama tiga bulan terakhir mulai memunculkan dampak nyata bagi para penerima manfaat. Salah satunya dialami Angne Canda Widiawati, mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) asal Desa Gabus RT 03 RW 08, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati.

Kisah pilu tersebut disampaikan Angne kepada Sutomo, koordinator orang tua mahasiswa penerima beasiswa yang selama ini aktif memperjuangkan kejelasan pencairan bantuan pendidikan tersebut.

Dalam pengakuannya, Angne mengaku mengalami tekanan ekonomi dan mental yang berat sejak beasiswa yang selama ini menjadi penopang biaya hidup dan kuliahnya tidak lagi cair sejak April 2026.

“Jujur Pak, saat beasiswa masih lancar saya merasa sangat terbantu. Tetapi ketika beasiswa tidak kunjung cair, saya benar-benar down karena bingung harus mencari uang dari mana lagi untuk membayar kos dan kebutuhan sehari-hari,” ungkap Angne.

Mahasiswi yang berasal dari keluarga sederhana itu mengaku sejak duduk di bangku SMA telah berusaha mandiri dan tidak ingin membebani ibunya yang harus berjuang sendiri membiayai keluarga setelah ayahnya meninggal dunia saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Menurut Angne, dana beasiswa yang diterimanya selama ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan kuliah dan biaya hidup, tetapi juga disisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli laptop karena kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk membelinya secara langsung.

“Saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak merepotkan ibu. Bahkan uang beasiswa itu saya sisihkan untuk membeli laptop karena ibu saya tidak sanggup membelikannya,” tuturnya.

Namun kondisi berubah ketika bantuan pendidikan tersebut tidak lagi diterima. Untuk bertahan hidup, Angne terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu setelah jam kuliah. Sayangnya, pekerjaan yang dijalaninya tidak selalu tersedia dan penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Akibat kelelahan bekerja sambil kuliah dan tekanan ekonomi yang terus menghantui, kesehatannya mulai menurun sejak akhir April.

“Saya sering sakit-sakitan karena kecapekan. Mulai Mei saya kadang makan, kadang tidak. Sampai akhirnya terkena tipes pada akhir Mei,” katanya.

Tak hanya persoalan fisik, tekanan mental juga ikut dirasakan. Angne mengaku sempat kehilangan semangat kuliah dan bahkan pernah berpikir untuk menghentikan pendidikan demi membantu ibunya mencari nafkah.

“Saya sempat berpikir untuk putus kuliah dan bekerja saja membantu ibu. Karena adik saya juga akan masuk SMK dan membutuhkan biaya,” ujarnya.

Dalam kondisi terpuruk tersebut, Angne mengaku memilih menyimpan semua beban yang dirasakannya agar sang ibu tidak semakin terbebani.

“Posisi saya hanya diberi uang sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per minggu oleh ibu. Itu sudah untuk bensin, kebutuhan kuliah, minum dan makan. Saya paham kondisi ibu karena beliau berjuang sendirian,” katanya.

Untuk menghemat pengeluaran, Angne mengaku sering menahan lapar dan hanya makan seadanya.

“Kadang saya makan dua hari sekali. Kalau benar-benar lapar, saya hanya makan nasi hangat tanpa lauk,” ungkapnya.

Kondisi tersebut bahkan membuatnya kembali jatuh sakit dan harus berjuang melawan radang usus beberapa waktu lalu.

Meski menghadapi berbagai kesulitan, Angne mengaku tetap ingin mempertahankan kuliahnya. Ia ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana juga mampu mengenyam pendidikan tinggi.

“Saya kuliah karena ingin mengangkat derajat ibu saya. Saya ingin membuktikan bahwa perjuangan beliau tidak sia-sia,” tuturnya.

Sementara itu, Sutomo selaku koordinator orang tua mahasiswa penerima beasiswa mengatakan kisah yang dialami Angne bukan satu-satunya. Menurutnya, banyak mahasiswa penerima manfaat yang mulai mengalami kesulitan ekonomi akibat belum cairnya bantuan pendidikan tersebut.

“Kami menerima banyak keluhan dari mahasiswa dan orang tua. Karena itu kami terus berupaya mencari kejelasan dan meminta pemerintah segera memberikan kepastian terkait pencairan beasiswa ini,” kata Sutomo.

Diketahui, sebanyak 10 perwakilan orang tua mahasiswa penerima beasiswa dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pati telah meminta pendampingan hukum dan berencana melakukan audiensi dengan Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra untuk meminta penjelasan terkait keterlambatan pencairan beasiswa yang telah berlangsung selama tiga bulan.

Para orang tua berharap pemerintah daerah segera memberikan solusi agar mahasiswa dari keluarga kurang mampu tidak menjadi korban berkepanjangan akibat tersendatnya program bantuan pendidikan tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *