Suhu Kawah Gunung Slamet Mencapai 478°C, BPBD Banyumas Gandeng Sekutu Regional Siapkan Langkah Antisipasi

Nasional28 Dilihat

Portal Muria – 20 April 2026 | Gunung Slamet kembali menjadi sorotan publik setelah pengukuran terbaru menunjukkan suhu kawahnya melonjak hingga 478 derajat Celsius pada 18 April 2026. Peningkatan suhu ini terdeteksi oleh tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang memanfaatkan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Kenaikan tajam dari 461°C hanya dalam satu hari menandakan pola aktivitas vulkanik yang kembali menguat setelah sempat menurun dalam beberapa hari sebelumnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, menyampaikan bahwa wilayah selatan Banyumas masih relatif aman dibandingkan lereng utara yang lebih dekat dengan zona berbahaya. Meski demikian, otoritas daerah menegaskan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan. “Kami terus memantau perkembangan aktivitas, terutama suhu kawah dan indikator lain seperti gas beracun serta deformasi tanah,” ungkap Dwi Irawan dalam konferensi pers di Purwokerto pada Senin, 20 April 2026.

BPBD Banyumas tidak bekerja sendiri. Koordinasi lintas wilayah melibatkan Badan Geologi serta BPBD dari kabupaten tetangga—Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Rapat koordinasi dijadwalkan pada Kamis, 23 April 2026, di Purwokerto untuk menyusun skenario mitigasi bila aktivitas gunung berlanjut meningkat. Fokus utama rapat mencakup perluasan zona aman, penyiapan jalur evakuasi, serta penyuluhan kepada masyarakat di daerah rawan.

Sejak 4 April 2026, PVMBG memperluas zona aman di sekitar kawah dari dua kilometer menjadi tiga kilometer. Keputusan ini didasarkan pada data termal yang menunjukkan suhu kawah naik signifikan sejak September 2024, ketika tercatat 247,4°C, dan mencapai 463°C pada awal April 2026. Penyebaran anomali panas kini membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah, menandakan potensi peningkatan tekanan magma.

Masyarakat di kabupaten Banyumas, khususnya kecamatan Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, dan Cilongok, menjadi prioritas pemantauan. Wisata alam di kawasan Baturraden masih dianggap aman karena lokasinya jauh dari puncak, namun otoritas mengingatkan pengunjung untuk tidak mengabaikan peringatan resmi. Dwi Irawan menekankan pentingnya informasi yang terverifikasi, mengingat banyak rumor yang beredar di media sosial.

Selain upaya teknis, BPBD menekankan peran kesiapsiagaan mandiri. Warga diharapkan memahami jalur evakuasi, menyiapkan perlengkapan darurat, serta melaporkan tanda-tanda anomali seperti bau belerang atau getaran tanah. Pemerintah daerah juga berencana menyebarkan poster edukatif di balai desa dan sekolah, serta mengadakan simulasi evakuasi pada akhir April.

Jika suhu kawah terus naik atau terjadi peningkatan gas berbahaya, skenario terburuk melibatkan erupsi kecil yang dapat menghasilkan awan panas dan hujan abu. Dampak tersebut berpotensi menutupi area pertanian di lereng utara, mengganggu distribusi air, serta menambah beban pada infrastruktur transportasi. Oleh karena itu, pemantauan real-time melalui sensor seismik dan termal menjadi prioritas utama.

Secara keseluruhan, peningkatan suhu kawah Gunung Slamet menjadi indikator bahwa gunung berstatus “Waspada” (Level II) sejak Oktober 2023 tetap relevan. Upaya bersama antara BPBD, Badan Geologi, dan PVMBG menunjukkan kesiapsiagaan terpadu. Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, mengikuti arahan resmi, dan berpartisipasi dalam program edukasi yang disediakan.

Dengan koordinasi lintas wilayah yang kuat serta peningkatan zona aman, diharapkan potensi dampak vulkanik dapat diminimalisir. Pemerintah daerah terus berkomitmen menjaga keselamatan warga sambil memantau dinamika aktivitas Gunung Slamet secara intensif.