Membangun Masyarakat Waras di Lahat: Dari Tragedi Mutilasi hingga Gerakan Sekolah Asri

Berita28 Dilihat

Portal Muria – 19 April 2026 | Kasus tragis pembunuhan seorang ibu oleh anaknya sendiri di Lahat, Sumatera Selatan, yang mengerikan karena dilakukan dengan mutilasi, mengungkap gejala krisis moral, relasi, dan makna hidup dalam masyarakat modern. Anak tersebut dipicu oleh permintaan uang untuk membiayai judi online yang tidak terpenuhi, menandakan peran teknologi dan kecanduan digital dalam memicu tindakan ekstrem.

Judi online, yang menawarkan akses mudah tanpa batas, telah menjadi candu bagi jutaan warga Indonesia. Data terbaru memperkirakan lebih dari 16 juta orang terlibat dalam praktik ini, sementara 3,5 persen pengguna internet pernah terpapar. Dampaknya tidak hanya pada keuangan pribadi; pada tahun 2024 tercatat hampir 2.889 kasus perceraian dipicu judi, naik 83 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kecanduan ini menggerogoti kontrol diri, menimbulkan tekanan psikologis, dan mengubah nilai moral menjadi sekadar alat untuk memenuhi keinginan pribadi.

Dalam konteks sosiologis, Zygmunt Bauman menggambarkan era “liquid modernity” di mana nilai dan ikatan sosial menjadi cair dan rapuh. Manusia kini cenderung mencari kepuasan instan, mengabaikan komitmen jangka panjang, sehingga tanggung jawab moral melemah. Konsep anomie Émile Durkheim menegaskan bahwa ketika norma sosial mengendur, individu mudah terseret ke dalam perilaku destruktif. Hannah Arendt menambahkan bahwa kejahatan besar tidak selalu lahir dari niat jahat, melainkan dari kebiasaan kehilangan kemampuan berpikir moral.

Selain faktor eksternal, dinamika keluarga turut menjadi faktor kunci. Keluarga seharusnya menjadi tempat pertama penanaman nilai kasih, hormat, dan tanggung jawab. Namun, banyak kasus menunjukkan komunikasi yang minim, kedekatan emosional yang lemah, dan pengawasan yang kurang. Erich Fromm mengingatkan bahaya orientasi “having” yang menekankan kepemilikan materi dibandingkan orientasi “being” yang menitikberatkan pada relasi bermakna.

Menanggapi permasalahan ini, pemerintah Kabupaten Lahat mengambil langkah konkret melalui dua program yang mencerminkan upaya membangun masyarakat waras. Pertama, Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih SH MH, membuka Gerakan Sekolah Asri di SMP Negeri 1 Lahat Selatan. Kegiatan penanaman pohon bersama siswa dan guru menekankan pentingnya lingkungan hijau sebagai ruang belajar yang sehat. Kepala sekolah, Ridiansyah SPdi MPd, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang bersih, nyaman, dan mendidik nilai kepedulian lingkungan sejak dini.

Kedua, Bupati Lahat, H. Bursah Zarnubi SE, meresmikan 52 unit rumah relokasi bagi korban banjir bandang di Desa Keban Agung. Program ini tidak hanya memberikan tempat tinggal yang aman, tetapi juga membuka lahan seluas 1,5 hektare untuk pengembangan masa depan. Upaya ini menegaskan peran pemerintah dalam menyediakan jaminan keamanan fisik serta harapan baru bagi warga yang terdampak bencana.

Pelajaran yang dapat diambil dari kombinasi tragedi dan respons kebijakan tersebut menuntut pendekatan holistik. Penegakan hukum terhadap platform judi ilegal harus dipadu dengan edukasi publik yang masif tentang bahaya kecanduan, khususnya bagi generasi muda. Pendidikan karakter perlu diintegrasikan ke kurikulum, menekankan etika, empati, dan tanggung jawab sosial, bukan hanya aspek akademik.

Peran keluarga harus direvitalisasi; orang tua tidak hanya sebagai penyedia material, tetapi juga sebagai pendamping emosional dan moral. Komunitas dan institusi keagamaan dapat memperkuat kesadaran moral, mengingat Paus Fransiskus menyoroti bahaya “throwaway culture” yang memperlakukan manusia secara instrumental. Sementara itu, inisiatif lingkungan seperti Gerakan Sekolah Asri menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap alam, yang pada gilirannya memperkuat ikatan sosial.

Secara keseluruhan, tragedi mutilasi di Lahat mengungkap betapa rapuhnya moralitas ketika nilai-nilai dasar tergerus oleh kecanduan digital, tekanan ekonomi, dan kelemahan institusi keluarga. Namun, langkah-langkah konkrit pemerintah dalam menyediakan tempat tinggal yang layak dan menciptakan lingkungan belajar yang sehat menunjukkan bahwa perubahan memungkinkan bila semua pihak berkolaborasi. Membangun masyarakat waras bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan sinergi antara negara, keluarga, sekolah, dan komunitas untuk menegakkan nilai kemanusiaan, etika, dan kepedulian bersama.