Portal Muria – 19 April 2026 | JAKARTA, 19 April 2026 – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat kembali normal bila perdamaian tercapai antara Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan beliau ke Pondok Pesantren Atsaqofah, Jakarta, pada Sabtu (18/4), menyusul serangkaian ketegangan yang memuncak di wilayah Teluk Persia.
Menurut Boroujerdi, perdamaian masih berada pada tahap perundingan yang belum menghasilkan kesepakatan final. Iran telah mengajukan serangkaian syarat melalui meja perundingan, termasuk pencabutan blokade AS terhadap kapal-kapal Iran serta penghentian serangan militer yang dianggap memicu eskalasi. “Jika persyaratan itu dapat dipenuhi oleh AS dan Israel, perdamaian akan segera terwujud, termasuk kelancaran lalu lintas kapal pembawa minyak yang melewati Selat Hormuz,” ujar Dubes Iran.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak berniat melancarkan serangan terlebih dahulu, melainkan ingin menegaskan kepada AS dan Israel bahwa tindakan agresif mereka telah menimbulkan konsekuensi. “Kami berharap mereka sudah mencapai titik penyesalan,” kata Boroujerdi, menyinggung serangkaian serangan udara yang dilancarkan AS terhadap sasaran di Iran beberapa minggu terakhir.
Sementara itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (18/4) siang, menyatakan bahwa penutupan akan berlangsung hingga blokade AS terhadap kapal-kapal Iran dihentikan. Pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menegaskan bahwa penutupan bersifat sementara, namun akan diperpanjang jika blokade terus berlanjut.
Penutupan tersebut memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital, menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Menurut data internal, sekitar 20% produksi minyak dunia melintasi selat ini setiap harinya. Penutupan kembali dapat menimbulkan lonjakan harga minyak serta mengganggu rantai pasokan energi internasional.
Iran sebelumnya telah membuka selat secara terbatas, memperbolehkan kapal komersial melintasi dengan persyaratan khusus, termasuk pemberian data lengkap, izin resmi, dan pembayaran biaya keamanan. Namun, Tehran menegaskan bahwa pembukaan terbatas tersebut dapat dibatalkan bila ada gangguan atau blokade baru dari pihak lawan.
Para pengamat politik menilai bahwa pernyataan Boroujerdi sekaligus langkah penutupan selat mencerminkan strategi Tehran untuk menekan AS dan Israel secara diplomatik sekaligus militer. “Iran memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam negosiasi, sambil tetap menegaskan kesiapan pertahanan nasionalnya,” ujar seorang analis keamanan regional.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyambut baik upaya diplomatik kedua belah pihak. Menteri Luar Negeri RI menegaskan pentingnya menjaga stabilitas jalur pelayaran dan mengajak semua pihak untuk menempuh dialog damai. Indonesia juga menawarkan peran sebagai mediator netral, mengingat hubungan historis yang kuat dengan Iran dan posisi strategisnya di Asia Tenggara.
Ke depan, hasil perundingan masih bergantung pada respons AS dan Israel terhadap tuntutan Iran. Jika blokade dicabut dan persyaratan keamanan dipenuhi, kemungkinan besar Selat Hormuz akan kembali beroperasi secara normal, mengurangi tekanan pada pasar energi global. Namun, bila ketegangan berlanjut, penutupan berulang dapat menjadi risiko berkelanjutan bagi ekonomi dunia.
Situasi ini menuntut perhatian serius dari komunitas internasional, khususnya negara-negara konsumen minyak, yang harus menyiapkan strategi mitigasi dampak harga dan pasokan. Dengan dinamika politik yang terus berubah, masa depan Selat Hormuz tetap menjadi indikator utama stabilitas geopolitik Timur Tengah.












