Portal Muria – 19 April 2026 | Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026) hanya kurang dari 24 jam setelah sempat membuka jalur pelayaran komersial. Keputusan mendadak itu menimbulkan kegelisahan di pasar energi dunia, mengingat selat tersebut menjadi rute bagi sekitar 20 persen produksi minyak global.
Awal pekan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan melalui media sosial X bahwa selat tersebut “completely open” selama masa gencatan senjata di Lebanon. Pengumuman itu diikuti oleh pernyataan resmi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menegaskan bahwa semua kapal niaga dapat melintasi selat tanpa hambatan.
Pihak pertamina International Shipping (PIS) segera menyiapkan dua kapal tanker, Pertamina Pride dan Gamsunoro, untuk melanjutkan pengiriman BBM dan LPG yang sebelumnya tertahan di Teluk Persia. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menjelaskan bahwa perusahaan melakukan pemantauan intensif, menyusun rute, mengidentifikasi risiko, serta menyiapkan rencana kontingensi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia menyambut positif keputusan Iran. Juru bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menilai pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan kepastian bagi stabilitas pasokan energi nasional dan menurunkan tekanan pada harga minyak dunia.
Namun, pada pagi hari yang sama, IRGC mengumumkan penutupan kembali selat tersebut. Menurut pernyataan militer Iran, penutupan itu akan berlangsung sampai Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya di pelabuhan Iran. IRGC menegaskan bahwa kebebasan navigasi penuh bagi kapal Iran harus dipulihkan terlebih dahulu.
Blokade AS yang diterapkan pada pelabuhan-pelabuhan Iran dianggap Tehran sebagai tindakan pembajakan maritim. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengkritik kebijakan tersebut sebagai keputusan yang “ceroboh dan tidak bijaksana”.
Ketegangan internal di Iran juga tampak jelas. Analisis para pengamat menunjukkan perbedaan sikap antara kementerian luar negeri yang mengedepankan diplomasi dan elemen militer yang menegaskan kontrol ketat atas selat. Insiden tembakan terhadap dua kapal komersial di Teluk pada 17/4/2026 memperkuat persepsi adanya perpecahan dalam kebijakan luar negeri Iran.
Berikut rangkaian peristiwa utama dalam 48 jam terakhir:
- 17/4/2026 – Abbas Araghchi mengumumkan pembukaan penuh Selat Hormuz.
- 17/4/2026 – PIS menyiapkan passage plan untuk dua tanker pertamina.
- 18/4/2026 pagi – IRGC menutup kembali selat, menuntut pencabutan blokade AS.
- 18/4/2026 siang – Sekitar delapan tanker yang sedang transit berbalik arah.
- 18/4/2026 sore – Pemerintah Indonesia melalui ESDM menilai situasi positif bagi stabilitas energi.
Dampak ekonomi langsung terlihat pada penurunan harga minyak mentah internasional, yang turun sekitar 2,5% setelah pengumuman pembukaan. Namun, volatilitas kembali meningkat setelah penutupan ulang, menimbulkan kekhawatiran akan gangguan suplai jangka pendek.
Untuk Indonesia, kesiapan Pertamina dalam mengamankan dua tanker tetap menjadi prioritas. Koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri RI, perusahaan asuransi, serta otoritas pelabuhan Iran diharapkan mempercepat proses perizinan dan memastikan keselamatan awak serta muatan.
Secara geopolitik, episode buka‑tutup ini menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi alat tawar menawar antara Iran dan Amerika Serikat. Sementara Amerika belum memberi respons resmi terhadap keputusan Iran, dinamika ini memperpanjang ketidakpastian di wilayah Teluk Persia hingga akhir gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 22 April 2026.
Ke depan, observasi terhadap kebijakan IRGC dan respons diplomatik Washington akan menjadi indikator utama apakah selat tersebut dapat tetap terbuka atau kembali tertutup, dengan implikasi langsung bagi pasar energi global dan kepentingan strategis Indonesia.








