Warga Pagar Alam Kaget: Kolam Ikan Berubah Merah, Ini Penyebabnya!

Berita211 Dilihat

Portal Muria – 17 April 2026 | Pagar Alam, Sumatra Selatan – Kejadian menakjubkan melanda sejumlah kolam ikan di kawasan perumahan dan area pertanian setempat ketika airnya tiba-tiba berubah menjadi merah pekat. Fenomena yang memicu kegelisahan warga ini telah menjadi sorotan utama media lokal, dengan banyak pihak mendesak penjelasan resmi mengenai penyebabnya.

Menurut hasil penyelidikan awal tim ahli lingkungan dari Universitas Lampung yang dipanggil ke lapangan, perubahan warna air tidak disebabkan oleh fenomena alami semata, melainkan berhubungan dengan masuknya zat kimia berwarna merah ke dalam ekosistem kolam. Analisis laboratorium menunjukkan tingginya konsentrasi ion besi (Fe³⁺) serta partikel oksida besi yang terbentuk setelah reaksi kimia antara limbah industri dan air.

Beberapa warga mengaku pertama kali menyaksikan perubahan tersebut pada pagi hari, ketika mereka membuka penutup kolam untuk memberi makan ikan. “Airnya sudah berwarna seperti darah, kami langsung panik karena takut ikan-ikan kami mati,” ujar Budi Santoso, seorang petani ikan lele yang mengelola kolam seluas 500 meter persegi di Kelurahan Beringin.

Tim investigasi melakukan pengambilan sampel air pada tiga titik berbeda: kolam di daerah perumahan, kolam di lahan pertanian, dan kolam di area komersial. Hasil pengujian mengungkapkan bahwa kadar besi di atas batas aman (lebih dari 0,3 mg/L) mencapai 2,8 mg/L pada kolam yang paling terpengaruh. Selain itu, terdeteksi pula jejak logam berat lain seperti mangan (Mn) dan nikel (Ni) dalam konsentrasi rendah, yang memperkuat dugaan adanya limpasan limbah industri.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pagar Alam, Dr. Siti Murni, penyebab utama adalah limpahan limbah cair dari pabrik pengolahan batu bara yang berlokasi di sebelah utara kota. “Kami telah menerima laporan tentang pembuangan limbah tanpa perlakuan yang memadai. Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa limbah tersebut mengandung oksida besi yang dapat menghasilkan warna merah pada air ketika terlarut,” jelasnya.

Selain faktor industri, tim ahli juga menyinggung kemungkinan kontribusi pertanian intensif. Penggunaan pupuk kandang dan pupuk kimia yang mengandung zat besi dapat meningkatkan kadar logam dalam tanah, yang kemudian terbawa oleh aliran air ke kolam. Namun, para peneliti menegaskan bahwa kontribusi pertanian bersifat sekunder dibandingkan sumber industri.

Warga yang terdampak kini menghadapi dilema serius. Ikan-ikan yang berada di dalam kolam mengalami stres berat akibat perubahan kualitas air, dan sebagian besar menunjukkan gejala kematian. “Kami sudah mencoba menambahkan aerator dan mengganti sebagian air, namun perubahan warna tetap terjadi,” keluh Rina Wulandari, pengelola kolam ikan nila di desa Sukamaju.

Pemerintah daerah segera membentuk satuan tugas gabungan antara Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, dan Kepolisian Daerah untuk menindaklanjuti temuan tersebut. Satuan tugas tersebut akan melakukan pemantauan kualitas air secara berkala, menuntut pertanggungjawaban pabrik yang diduga menjadi sumber utama pencemaran, serta memberikan bantuan teknis kepada petani ikan untuk mengatasi dampak sementara.

Di sisi lain, sejumlah LSM lingkungan setempat menuntut transparansi penuh dan penegakan hukum yang tegas. “Kami menuntut agar pihak berwenang melakukan audit menyeluruh terhadap semua perusahaan yang beroperasi di wilayah ini, serta menegakkan sanksi bila terbukti melanggar standar lingkungan,” kata Ketua LSM Hijau Pagar Alam, Andi Prasetyo.

Untuk mengurangi dampak jangka panjang, ahli ekologi merekomendasikan beberapa langkah mitigasi, antara lain:

  • Pemasangan sistem filtrasi dan pengendapan di saluran masuk kolam untuk menyaring partikel besi sebelum mencapai air.
  • Penggunaan bahan pengikat besi seperti fosfat yang dapat mengendapkan ion besi menjadi partikel tidak berwarna.
  • Penerapan program rehabilitasi ekosistem mikroba yang dapat membantu menguraikan zat pencemar.

Selain upaya teknis, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci. Pemerintah daerah berencana mengadakan workshop bagi petani ikan dan warga sekitar mengenai cara mengidentifikasi tanda-tanda pencemaran serta langkah-langkah darurat yang dapat diambil.

Kasus kolam ikan berwarna merah ini menjadi peringatan penting tentang pentingnya pengelolaan limbah industri yang berkelanjutan. Dampak langsung yang dirasakan oleh warga Pagar Alam menegaskan bahwa kegagalan dalam mematuhi regulasi lingkungan dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi dan sosial yang signifikan.

Dengan penanganan yang cepat dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan situasi dapat terkendali dan kolam ikan kembali pulih ke kondisi normal. Pemerintah berjanji akan memberikan laporan perkembangan secara berkala kepada publik, sekaligus menegakkan sanksi bagi pihak yang terbukti melanggar peraturan.

Sejauh ini, pabrik yang menjadi fokus penyelidikan belum memberikan pernyataan resmi. Namun, tekanan publik dan media yang terus meningkat diperkirakan akan mendorong respons yang lebih cepat dan transparan.

Warga Pagar Alam berharap agar kejadian serupa tidak terulang, dan menuntut perlindungan yang lebih ketat terhadap sumber daya air yang menjadi nadi kehidupan mereka.