Dugaan Keracunan MBG di Grobogan, SPPG Tetap Beroperasi Meski Warga Masih Trauma

Berita, Grobogan, Muria1262 Dilihat

GROBOGAN, Jawa Tengah – PortalMuria.com | Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) di Desa Putatsari, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, tetap melanjutkan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) meski sebelumnya terseret kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan warga.

Pantauan di lapangan, MBG kembali disalurkan kepada sasaran Posyandu Karangjati pada Senin (15/12/2025). Namun, suasana berbeda terasa. Sejumlah orang tua balita memilih tidak memberikan makanan tersebut kepada anak mereka, dipicu trauma pascakejadian dugaan keracunan yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

Sebelumnya, pada Jumat pagi (12/12/2025), tercatat 23 kasus dugaan keracunan makanan MBG. Seluruh korban sempat menjalani perawatan rawat jalan di fasilitas kesehatan setempat.

Beruntung, setelah mendapatkan penanganan medis, kondisi seluruh pasien dilaporkan telah membaik dan diperbolehkan pulang.

Risna, salah satu orang tua balita korban, mengungkapkan bahwa pihak SPPG mendatangi rumah warga dan mengganti biaya pemeriksaan medis.

“Diganti uang periksa sekitar Rp 50 ribu per orang,” ujar Risna.

Meski kedua anaknya telah dinyatakan sembuh, Risna mengaku masih menyimpan rasa khawatir terhadap keberlanjutan program MBG.

“Sudah sembuh alhamdulillah. Cuma saya yang trauma. Kalau dibiarkan saja takutnya sistem masaknya tidak diperbaiki,” imbuhnya.

Trauma serupa juga dirasakan orang tua balita lainnya. Pada penyaluran MBG terbaru, menu berupa tumis labu siam, tahu, dan telur tampak tak disentuh anak-anak.

“Menunya tidak dimakan, anak-anak masih trauma. Masih takut semua. Belum berani makan makanan basah lagi,” ungkap Risna.

Sebagai tindak lanjut, pihak puskesmas setempat telah berkoordinasi dengan SPPG dan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) ke dapur SPPG untuk menelusuri sumber dugaan keracunan.

Foto: ilustrasi menu MBG.

Selain itu, pihak SPPG juga berkoordinasi dengan pemerintah desa serta mendatangi seluruh korban untuk memberikan kompensasi dan bingkisan sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Menanggapi kasus tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan, Djatmiko, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan intensif di lapangan.

Ia menyebutkan, tim kesehatan bersama pihak Kecamatan Grobogan kembali diterjunkan guna memastikan keamanan distribusi MBG serta memantau respons masyarakat pascakejadian.

“Kami fokus pada evaluasi pendistribusian MBG, terutama untuk posyandu kategori B3, yaitu balita, ibu hamil, dan ibu menyusui,” jelasnya.

Menurut Djatmiko, pendistribusian MBG kepada kelompok B3 memiliki tantangan lebih besar dibandingkan sekolah.

“Kalau B3 kan tempatnya menyebar, tidak seperti sekolah yang satu titik,” terangnya.

Selain distribusi, Dinkes Grobogan juga menyoroti tata kelola penyimpanan sampel makanan yang dinilai belum sesuai prosedur.

Djatmiko mengungkapkan, sesuai standar operasional, sampel MBG seharusnya disimpan selama 2×24 jam sebagai langkah antisipasi jika terjadi kejadian luar biasa (KLB).

“Kemarin sampel makanan yang belum 2×24 jam sudah dibuang. Ini juga menjadi bahan evaluasi,” bebernya.

Dinkes Grobogan berharap evaluasi menyeluruh ini mampu memperbaiki pelaksanaan program MBG ke depan, sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat secara bertahap.

Meski program tetap berjalan, fakta bahwa sejumlah balita enggan menyantap makanan menunjukkan bahwa pemulihan psikologis masyarakat menjadi pekerjaan rumah tersendiri, tak kalah penting dari aspek teknis dan kesehatan.

(Red.)